Jumat, 17 Mei 2013

Laporan Produksi Tanaman 1"Jagung"



BAB 1 PENDAHULUAN

1.1         Latar Belakang
Jagung merupakan salah satu komuditas utama yang banyak dibudidayakan oleh masyarakat terutama di Indonesia. Jumlah jagung yang diproduksi oleh masyarakat belum cukup untuk memenuhi permintaan pasar karena masih banyak masyarakat yang belum mengetahui tentang bagaimana cara membudidayakan jagung yang benar dan baik dan tanah atau lahan untuk tanaman jagung telah banyak dialih fungsikan sebagai gedung-gedung dan lain-lain. Perusahaan swasta pun juga belum memproduksi jagung secara optimal. Jagung juga sebagai makanan pokok di suatu daerah tertentu dan diubah menjadi beberapa makanan ringan yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat sehingga kebutuhan akan jagung meningkat di masyarakat.
Hasil tanaman jagung juga dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu masih belum optimalnya penyebaran varietas unggul dimasyarakat, pemakaian pupuk yang belum tepat, penerapan teknologi dan cara bercocok tanam yang beum diperbaiki. Usaha untuk meningkatkan produksi tanaman jagung adalah peningkatan taraf hidup petani dan memenuhi kebutuhan pasar maka perlu peningkatan produksi jagung yang memenuhi standard baik kualitas dan kuantitas jagung yan dihasilkan tetapi dalam melakukan hal tersebut perlu mengetahui atau memahami karakteristik tanaman jagung yang akan ditanam seperti morfologi, fisiologi dan agroekologi yang diperlukan oleh tanaman jagung sehingga dapat meningkatkan produksi jagung di Indonesia.
Bagian-bagian tanaman jagung berupa akar, batang, daun, bunga dan biji yang memiliki fungsi yang berbeda-beda. Akar tanaman jagung ini berfungsi sebagai pengambilan unsur hara dan mineral yang dibutuhkan oleh tanaman jagung tersebut untuk tumbuh sehingga akar ini merupakann organ yang vital bagi setiap tanaman. Batang tanaman jagung berfungsi sebagai tempat melekatnya daun, bunga dan buah tanaman jagung serta sebagai tempat penghubung atau penyaluran unsur hara dan mineral dari akar ke batang dan penyaluran hasil fotosintesis dari daun ke seluruh tanaman. Daun tanaman jagung berfungsi sebagai tempat proses fotosintesis yang yang digunakan tanaman untuk melangsungkan hidup tanaman. Bunga jagung berfungsi sebagai perkembangbiakan secara generatif tanaman jagung. Bunga tanaman jagung ini terdapat perbedaan yaitu bunga jantan dan betina tanaman jagung terpisah bukan dalam satu tanaman. Biji tanaman jagung berfungsi sebagai perkembangan generatif tanaman jagung tersebut dan biji ini yang berguna bagi manusi sebagai bahan pokok makanan dan bahan lainnya dari tanaman jagung.
Tanaman jagung sendiri merupakan tanaman yang tidak banyak memerlukan air dalam siklus tumbuhnya sehingga sebenernya mudah dalam membudidayakan tanaman jagung ini apabila dilakukan dengan benar. Dari hal tersebut tanaman jagung hanya perlu curah hujan yang relatif rendah yaitu sekitar 85-200 mm/bulan tetapi merata pada setiap lahan. Untuk umur jgung sendiri tergantung pada varietas yang digunakan untuk budidaya. Ada jagung yang berumur dalam yaitu lebih dari 100 hari dalam 1 kali panen, jagung yang berumur sedang antara 85-100 panen dan ada juga umur jagung yang berumur rendah yaitu kurang dari 85 hari pemanenan.
Upaya untuk meningkatkan produksi jagung yang optimal perlu diperhatikan faktor lingkungan yang ada di lahan atau tempat budidaya jagung serta teknik bercocok tanaman jagung yang benar. Untuk faktor lingkungan meliputi beberapa faktor yaitu iklim, tanah dan tinggi tempat tanaman jagung yang diperlukan untuk tumbuh secara optimal sedangkan untuk cara bercocok tanam yang benar seperti pemilihan varietas, pengolahan tanah, waktu tanam, persiapan benih, pemupukan dan pemeliharaan.

1.2         Tujuan
1.        Untuk mengetahui dan menghitung produktivitas tanaman jagung.
2.        Untuk mengetahui teknik budidaya tanaman jagung yang baik dan sesuai dengan kondisi tanah.



BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Jagung merupakan salah satu contoh tanaman C4 yang berarti lebih banyak membutuhkan sinar matahari yang cukup dalam setiap pertumbuhan tanaman tersebut. Tanaman C4 merupakan tanaman yang memerlukan intensitas cahaya matahari yang lebih tinggi sehingga tanaman ini dapat membentuk rantai carbon sebanyak 4 buah dalam menambat carbon dioksida (CO2) dalam melangsungkan fotosintesis (Salisburi dan Ross, 1995). Untuk tanaman jagung tiak perlu diadakan naungan karena salah satu tanaman C4. Sehingga jagung lebih cocok dalam suhu antara 20-300 C dan ketinggian antara 50-1800 m dari permukaan laut. Tanaman jagung juga termasuk tanaman monokotil yang berarti tidak memiliki kayu pada bagia batangnya dan termasuk dalam famili rumput-rumputan.
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi produksi tanaman jagung dapat dari berbagai hal, salah satu contohnya yaitu faktor iklim. Iklim merupakan keadaan dimana yang sangat menentukan sehingga tidak semua tanaman dapat tumbuh pada setiap iklim. Selain iklim dapat menentukan produktivitas tanaman jagung tetapi dapat juga menentukan dalam hal kandungan gizi yang dihasilkan tanaman tetapi masyarakat tidak mementingkan gizi yang terkandung dalam tanaman jagung tersebut. Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki iklim tropis yang hanya memiliki 2 musim yaitu musim hujan dan kemarau. Untuk daerah iklim tropis kandungan gizi dalam tanaman hanya banyak mengandung karbohidrat yang tinggi tetapi rendah kandungan protein pada setiap tanaman yang dihasilkan (Kartasapoetra, 1990).
Peningkatan produktivitas tanaman jagung merupakan hal yang penting dalam memenuhi kebutuhan pasar di Indonesia. Dalam hal peningkatan produksi tanaman jagung ini perlu memperhatikan berbagai faktor seperti iklim, esensial, hama dan penyakit danvarietas tanaman yang akan ditanam. Salah satu faktok iklim yang berpengaruh dalam meningkatkan produksi tanaman adalah cahaya. Cahaya merupakan hasil dari gabungan antara berbagai warna yang ditimbulkan oleh sinar matahari atau benda lain yang dapat menghasilkan cahaya. Bagi tanaman cahaya sangat penting karena menyangkut berbagai hal dalam melakukan fotosintesis yang dibutuhkan oleh tanaman untuk melangsungkan hidupnya. Bukan hanya dalam hal fotosintesis cahaya yang diperlukan oleh tanaman tetapi proses pekembangan seperti perkecambahan, perpanjangan batang, membukanya hipocotyl, perluasan daun, sintesa klorofil, gerakan batang dan daun, pembukaan bunga dan dormansi tunas (Fitter dan Hay, 1992).
Faktor esensial merupakan faktor yang meliputi beberapa hal seperti air, unsur hara, sifat fisik tanah dan sifat biologi tanah. Air merupakan mineral yang terbentuk dari H2 dan O2 sehingga membentuk senyawa dihidrogen oksida (H2O). Air ini juga sebagai sumber kehidupan karena 90% makluk hidup memerlukan air dan juga 95% tubuh makluk hidup terdiri dari air. Bagi kindom plantae atau tanaman air merupakan hal pokok dalam melakukan berbagai kegiatan seperti fotosintesis, pebelahan sel, perkembangan tanaman dan lain-lain. Usaha untuk meningkatkan produksi tanaman terutama tanaman jagung memerlukan air yang sesuai untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman jagung. Tanaman jagung memerlukan tanaman yang hanya membutuhkan kadar air sedikit dalam siklus pertumbuhannya. Air didapat tanaman jagung dari dalam tanah melalui bulu-bulu akar tanaman. Masuknya air ke dalam akar melalui proses difusi yang terjadi pada sel akar tanaman. Akar tanaman jagung dapat mencapai panjang 25 cm sehingga dalam mencari sumber air tanah lebih efektif. Untuk tanaman jagung tanah yang paling bagus digunakan adalah tanah yang memiliki ketersedian air yang cukup selama pertumbuhan tanaman dan memiliki aerasi yang cukup (Gardner, dkk, 1991).
Irigasi merupakan salah satu usaha untuk memenuhi kebutuhan air bagi tanaman dengan membuat saluran-saluran irigasi sehingga ketika air dibutuhkan oleh tanaman petani perlu mengalirkan air ke dalam petak tanaman jagung tersebut. Hal ini tersebut merupakan salah satu manfaat pengairan atau irigasi bagi tanaman dan petani. Untuk tanaman jagung panjang akar hanya mencapai panjang 25 cm sehingga dalam mencari sumber air tanaman jagung tidak dapat menjangkau air tanah yang dalam. Untuk irigasi tanaman jagung lebih baik menggunakan irigasi bawah permukaan karena panjang akar tanaman jagung tidak cukup untuk menjangkau air tanah yang dalam selain itu irigasi ini hanya diperuntukkan bagi tanaman produksi (Al Omran et al, 2012).
Unsur hara yang terkandung didalam tanah merupakan faktor yang salah satu mendukung untuk peningkatan produksi tanaman jagung. Unsur hara digunakan tanaman untuk melakukan fotosintesis sehingga tanaman dapat melangsungkan pertumbuhan dan perkembangan. Unsur hara dapat ditambahkan ke tanah dalam bentuk pupuk baik dalam pupuk kimia maupun pupuk organik. Tanaman hanya memerlukan unsur hara utama yaitu N, P dan K. Ketiga unsur tersebut dibutuhkan tanaman dalam jumlah yang banyak dan juga berguna dalam membantu tanaman dalam hal pertumbuhan tanaman dan perkembangan tanaman. Untuk unsur P dan K digunakan tanaman untuk proses metabolisme sel, pembentukan enzim dan proses fisiologi tanaman sehingga dapat meningkatkan hasil berat biji tanaman jagung (Kasriani dan Supadma, 2007). Dari hal tersebut dapat meningkatkan produktivitas tanaman jagung sehingga menambah berat kering setiap biji tanaman jagung.
Unsur N yang dibutuhkan oleh tanaman dalam jumlah yang besar merupakan unsur hara yang digunakan tanaman untuk pertumbuhan tanaman sehingga dalam memenuhi unsur N tersebut dilakukan pemberian pupuk Urea. Tidak hanya digunakan dalam pertumbuhan tanaman unsur N tetapi dalam diferensiasi biji untuk perkembangan generatif tanaman (Ryan et al, 2009). Urea juga memiliki kandungan unsur N tinggi sehingga pemberian pupuk Urea ini dilakukan saat tanaman melakukan pertumbuhan vegetatif tetapi dalam melakukan pemupukan harus memperhatikan waktu, dosis pupuk yang diberikan, musim dan lain-lain. Hal tersebut dilakukan untuk memberikan efektivitas pemberian pupuk ke tanaman.
Pupuk organik merupakan perlakuan pemupukan yang menggunakan pupuk dari berbagai sisa hasil metabolisme makluk hidup seperti kotoran cair dan padat maupun sisa organ makluk hidup yang telah mati seperti daun dan batang tanaman. Kelemahan pemupukan bahan organik adalah pupuk organik perlu melalui proses yang lama sehingga keperluan unsur hara tanaman tidak langsung terpenuhi dan dapat memperlambat proses pertumbuhan tanaman. Salah satu pupuk organik yang banyak digunakan adalah penggunaan pupuk kandang. Pupuk kandanh merupakan hasil dari kotoran hewan ternak seperti sapi, unggas dan kambing dalam bentuk padat maupun cair. Pemberian pupuk kandang ini dapat meningkatkan kandungan unsur hara yang ada didlam tanah dan memperbaiki sifat fisik tanah sehingga dapat meningkatkan produktivitas tanaman jagung terutama berat tongkol jagung yang dihasilkan (Mayadewi, 2007).
Pemberian pupuk baik pupuk kimia maupun pupuk organik perlu memperhatikan berbagai hal agar tidak terjadi dampak yang buruk bagi tanah maupun lingkungan sehingga dapat menurunkan produktivitas tanaman. Salah satu contoh adalah unsur P. Ketika pemberian unsur P ke dalam tanah dapat menyebabkan residu didalam tanah karena unsur phosphat ini menyebabkan peningkatan asam organik didalam tanah sehingga tanah akan berubah menjadi asam sehingga tanaman akan mengalami kematian (Mohammadi et al, 2009). Agar dapat melakukan peningkatan produksi tanaman terutama jagung maka perlu diperhatikan tanah atau lahan yang cocok untuk tanaman jagung.
Peningkatan produksi tanaman jagung dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu salah satunya adalah pemupukan. Pengetahuan para petani dalam pemberian pupuk sangat kurang sehingga menyebabkan penurunan produksi tanaman jagung. Petani jagung hanya menggunakan pengalaman sehingga tidak mengetahui pemberian pupuk dengan unsur apa dalam fase pertumbuhan dan perkembangan tanaman jagung. Akibatnya kualitas tanaman jagung di Indonesia menurun. Pemberian zat yang salah dapat menimbulkan akibat yang fatal bagi tanaman dan tanah serta petani mengalami kerugian. Kerugian tersebut seperti kematian tanaman yang dibudidayakan, timbulnya gejala-gejala penyakit tanaman yang baru, kerusakan sifat fisik tanah, tidak ekonomis dan lain sebagainya (Sutejo, 1995).


BAB 3 METODOLOGI

3.1         Waktu dan Tempat
Pratikum ini dilaksanakan pada hari Senin tanggal 01 Oktober 2012 pukul 13.30 WIB di Laboratorium Produksi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Jember.

3.2         Alat dan Bahan
3.2.1   Alat
1.        Cangkul
2.        Tugal
3.        Rol meter
4.        Tali rafia
5.        Papan nama
6.        Ayakan
7.        Timba
3.2.2   Bahan
1.        Benih jagung
2.        Tanah
3.        Pupuk Urea, SP 36, dan KCl
4.        Polibag ukuran 40x60
5.        Tanah kering angin (diayak)

3.3         Cara Kerja
1.        Menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan.
2.        Menyiapkan media tanam dengan cara mengayak tanah dan menjemur sampai kering angin.
3.        Mengambil sampel tanah kemudian menganalisis dengan sidik cepat untuk mengetahui kondisi tanah meliputi pH, C-Organik dan sifat fisik tanah.
4.        Memasukkan tanah sebanyak 10 Kg kedalam poliba, untuk perlakuan menambahkan bahan organik yang sesuai dengan berat tanahnya, kemudian menyiram dengan air.
5.        Menanam benih jagung pada masing-masing polibag, satu lubang diisi 2 biji jagung.
6.        Menambahkan bahan organik dan pupuk Urea, SP 36 dan KCl sesuai dengan analisa dari sidik cepat yang telah dilakukan sedangkan pupuk Urea sesuai dengan perlakuan.
7.        Melakukan pengamatan secara rutin.


BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1    Hasil
-------------------------------------------

4.2    Pembahasan
Prospek dalam budidaya jagung di Indonesia sangat bagus dikembangkan dilihat dari berbagai sisi. Dilihat dari sisi konsumsi dalam beberapa tahun terakhir proposi penggunaan jagung oleh industri pakan telah mencapai 50% dari total kebutuhan nasional. Bahkan dapat diperkirakan dalam 20 tahun ke depan, penggunaan jagung untuk pakan diperkirakan terus meningkat dan bahkan setelah tahun 2020 lebih dari 60% dari total kebutuhan nasional. Dilihat dari sisi sumberdaya lahan dan ketersediaan teknologi, Indonesia sebenarnya memiliki peluang untuk berswasembada jagung dan bahkan berpeluang pula menjadi pemasok di pasar dunia mengingat makin meningkatnya permintaan dan makin menipisnya volume jagung di pasar internasonal. Upaya peningkatan produksi jagung di dalam negeri dapat ditempuh melalui perluasan areal tanam dan peningkatan produktivitas. Perluasan areal dapat diarahkan pada lahan-lahan potensial seperti lahan sawah irigasi, lahan sawah tadah hujan, dan lahan kering yang belum dimanfaatkan untuk pertanian. Berdasarkan penyebaran luas sawah dan tipe irigasinya, diperkirakan terdapat 457.163 ha yang potensial untuk peningkatan indeks pertanaman. Di luar Jawa terdapat 20,5 juta ha lahan kering yang dapat di-kembangkan untuk usahatani jagung.
Dari aspek teknis, teknologi yang diperlukan untuk mendukung pengembangan jagung antara lain adalah varietas hibrida dan komposit yang lebih unggul, di antaranya memiliki sifat toleran kemasaman tanah dan kekeringan, teknologi produksi benih sumber dan sistem perbenihannya, teknologi budidaya yang efisien dengan pendekatan pengelolaan tanaman terpadu (PTT), dan teknologi pascapanen untuk meningkatkan kualitas dan nilai tambah produk. Sedangkan untuk investasi yang diperlukan dalam pengembangan jagung bergantung kepada pencapaian target yang diinginkan. Berkaitan dengan hal tersebut, ada dua skenario pengembangan jagung nasional dalam periode 2005-2025. Skenario 1 atau skenario moderat, laju pertumbuhan produksi 4,24%/tahun. Skenario 2 atau skenario optimis, volume ekspor meningkat menjadi 15%. Kebutuhan investasi untuk pengembangan jagung melalui skenario 1 dan 2 dalam kurun waktu 2005-2025 masing-masing adalah Rp 29,0 trilyun, dan Rp 33,7 trilyun. Biaya investasi mencakup perluasan areal tanam pada lahan sawah, pembukaan lahan baru (lahan kering) dan infrastruktur, perbenihan, penyuluhan, penelitian dan pengembangan. Proporsi investasi yang menjadi tanggung jawab masyarakat 4%, sedangkan yang bersumber dari pemerintah dan swasta masing-masing dengan proporsi 74% dan 22%.
Jagung merupakan tanaman dari famili rumput-rumputan (graminae) dengan sub famili myadeae. Tanaman jagung juga merupakan tanaman yang berumah satu (monoecious) karena terdapat 2 bunga dalam satu tanaman, bunga jantan (staminate) terbentuk pada malai dan bunga betina (tepistila) terletak pada tongkol di pertengahan batang secara terpisah tapi masih dalam satu tanaman. Jagung tergolong tanaman C4 dan mampu beradaptasi dengan baik pada faktor pembatas pertumbuhan dan produksi. Salah satu sifat tanaman jagung sebagai tanaman C4, antara lain daun mempunyai laju fotosintesis lebih tinggi dibandingkan tanaman C3, fotorespirasi dan transpirasi rendah, efisien dalam penggunaan air. Organ pada tumbuhan terdiri atas tajuk (batang, cabang, dan daun) serta akar. Organ pada tumbuhan monokotil dan dikotil (akar, batang dan daun), berbeda dalam struktur morfologi dan anatominya (Siregar, dkk, 2008). Berikut ini beberapa morfologi dari tanaman jagung:
1.    Akar
Jagung memiliki akar serabut dengan tiga macam akar, yaitu akar seminal, akar adventif, dan akar kait atau penyangga. Akar seminal adalah akar yang berkembang dari radikula dan embrio. Pertumbuhan akar seminal akan melambat setelah plumula muncul ke permukaan tanah. Akar adventif adalah akar yang semula berkembang dari buku di ujung mesokotil, kemudian set akar adventif berkembang dari tiap buku secara berurutan dan terus ke atas antara 7-10 buku, semuanya di bawah permukaan tanah. Akar adventif berkembang menjadi serabut akar tebal. Akar seminal hanya sedikit berperan dalam siklus hidup jagung. Akar adventif berperan dalam pengambilan air dan hara. Akar kait atau penyangga adalah akar adventif yang muncul pada dua atau tiga buku di atas permukaan tanah. Fungsi dari akar penyangga adalah menjaga tanaman agar tetap tegak dan mengatasi rebah batang. Akar ini juga membantu penyerapan hara dan air.
2.    Batang
Batang tanaman jagung tidak bercabang, berbentuk silindris, dan terdiri atas sejumlah ruas dan buku ruas. Pada buku ruas terdapat tunas yang berkembang menjadi tongkol. Dua tunas teratas berkembang menjadi tongkol yang produktif. Batang memiliki tiga komponen jaringan utama, yaitu kulit (epidermis), jaringan pembuluh (bundles vaskuler), dan pusat batang (pith). Bundles vaskuler tertata dalam lingkaran konsentris dengan kepadatan bundles yang tinggi, dan lingkaran-lingkaran menuju perikarp dekat epidermis. Kepadatan bundles berkurang begitu mendekati pusat batang. Konsentrasi bundles vaskuler yang tinggi di bawah epidermis menyebabkan batang tahan rebah.
3.    Daun
Daun tanaman jagung terdiri atas helaian daun, ligula, dan pelepah daun yang erat melekat pada batang. Jumlah daun sama dengan jumlah buku batang. Jumlah daun umumya berkisar antara 10-18 helai, rata-rata munculnya daun yang terbuka sempurna adalah 3-4 hari setiap daun. Genotipe jagung mempunyai keragaman dalam hal panjang, lebar, tebal, sudut, dan warna pigmentasi daun. Lebar helai daun dikategorikan mulai dari sangat sempit (< 5 cm), sempit (5,1-7 cm), sedang (7,1-9 cm), lebar (9,1-11 cm), hingga sangat lebar (>11 cm). Besar sudut daun mempengaruhi tipe daun. Sudut daun jagung juga beragam, mulai dari sangat kecil hingga sangat besar. Beberapa genotipe jagung memiliki antocianin pada helai daunnya, yang bisa terdapat pada pinggir daun atau tulang daun. Intensitas warna antocyanin pada pelepah daun bervariasi, dari sangat lemah hingga sangat kuat.Bentuk ujung daun jagung berbeda, yaitu runcing, runcing agak bulat, bulat, bulat agak tumpul, dan tumpul. Berdasarkan letak posisi daun (sudut daun) terdapat dua tipe daun jagung, yaitu tegak (erect) dan menggantung (pendant). Daun erect biasanya memiliki sudut antara kecil sampai sedang, pola helai daun bisa lurus atau bengkok. Daun pendant umumnya memiliki sudut yang lebar dan pola daun bervariasi dari lurus sampai sangat bengkok. Jagung dengan tipe daun erect memiliki kanopi kecil sehingga dapat ditanam dengan populasi yang tinggi. Kepadatan tanaman yang tinggi diharapkan dapat memberikan hasil yang tinggi pula.
4.    Bunga
Jagung disebut juga tanaman berumah satu (monoeciuos) karena bunga jantan dan betinanya terdapat dalam satu tanaman. Bunga betina, tongkol, muncul dari axillary apices tajuk. Bunga jantan (tassel) berkembang dari titik tumbuh apikal di ujung tanaman. Pada tahap awal, kedua bunga memiliki primordia bunga biseksual. Selama proses perkembangan, primordia stamen pada axillary bunga tidak berkembang dan menjadi bunga betina. Serbuk sari (pollen) adalah trinukleat. Pollen memiliki sel vegetatif, dua gamet jantan dan mengandung butiran-butiran pati. Dinding tebalnya terbentuk dari dua lapisan, exine dan intin, dan cukup keras. Karena  adanya perbedaan perkembangan bunga pada spikelet jantan yang terletak di atas dan bawah dan ketidaksinkronan matangnya spike, maka pollen pecah  secara kontinu dari tiap tassel dalam tempo seminggu atau lebih. Rambut jagung (silk) adalah pemanjangan dari saluran stylar ovary yang matang pada tongkol. Rambut jagung tumbuh dengan panjang hingga 30,5 cm atau lebih sehingga keluar dari ujung kelobot. Panjang rambut jagung bergantung pada panjang tongkol dan kelobot.Tanaman jagung adalah protandry, di mana pada sebagian besar varietas, bunga jantannya muncul (anthesis) 1-3 hari sebelum rambut bunga betina muncul (silking). Serbuk sari (pollen) terlepas mulai dari spikelet yang terletak pada spike yang di tengah, 2-3 cm dari ujung malai (tassel), kemudian turun ke bawah. Satu bulir anther melepas 15-30 juta serbuk sari. Serbuk sari sangat ringan dan jatuh karena gravitasi atau tertiup angin sehingga terjadi penyerbukan silang.
5.    Biji dan tongkol
Tanaman jagung mempunyai satu atau dua tongkol, tergantung varietas. Tongkol jagung diselimuti oleh daun kelobot. Tongkol jagung yang terletak pada bagian atas umumnya lebih dahulu terbentuk dan lebih besar dibanding yang terletak pada bagian bawah. Setiap tongkol terdiri atas 10-16 baris biji yang jumlahnya selalu genap.Biji jagung disebut kariopsis, dinding ovari atau perikarp menyatu dengan kulit biji atau testa, membentuk dinding buah. Biji jagung terdiri atas tiga bagian utama, yaitu pericarp berupa lapisan luar yang tipis berfungsi mencegah embrio dari organisme pengganggu dan kehilangan air, endosperm sebagai cadangan makanan yang mencapai 75% dari bobot biji yang mengandung 90% pati dan 10% protein, mineral, minyak, dan lainnya dan embrio (lembaga) sebagai miniatur tanaman yang terdiri atas plamule, akar radikal, scutelum, dan koleoptil Pati endosperm tersusun dari senyawa anhidroglukosa yang sebagian besar terdiri atas dua molekul, yaitu amilosa dan amilopektin, dan sebagian kecil bahan antara. Tetapi pada beberapa jenis jagung terdapat variasi proporsi kandungan amilosa dan amilopektin. Protein endosperm biji jagung terdiri atas beberapa fraksi, yang berdasarkan kelarutannya diklasifikasikan menjadi albumin (larut dalam air), globumin (larut dalam larutan salin), zein atau prolamin (larut dalam alkohol konsentrasi tinggi), dan glutein (larut dalam alkali). Pada sebagian besar jagung, proporsi masing-masing fraksi protein adalah albumin 3%, globulin 3%, prolamin 60%, dan glutein 34%.
Budidaya tanaman jagung perlu memperhatikan beberapa faktor yang dapat mendukung pertumbuhan tanaman. salah satu faktor yang dapat mempengaruhi adalah faktor lingkungan. Pengaruh lingkungan terhadap pertumbuhan tanaman dapat dibagi atas dua faktor yaitu lingkungan dan genetik. Lingkungan tumbuh tanaman sendiri dapat dikelompokkan atas lingkungan biotik (tumbuhan lain, hama, penyakit dan manusia), dan abiotik (tanah dan iklim). Dari faktor-faktor diatas dapat dijelaskan ebagai berikut:
1.    Genetik
Gen adalah faktor pembawa sifat menurun yang terdapat di dalam makhluk hidup. Gen berpengaruhi setiap struktur makhluk hidup dan juga perkembangannya, Walaupun gen bukan satu-satunya faktor yang mempengaruhinya. Setiap jenis (spesies) memiliki gen untuk sifat tertentu. Penggunaan jagung dari varietas yang tahan merupakan salah satu cara dalam memproduksi tanaman jagung yang optimal.
2.    Curah hujan
Besarnya curah hujan mempengaruhi kadar air tanah, aerasi tanah, kelembaban udara dan secara tidak langsung juga menentukan jenis tanah sebagai tempat media tumbuh tanaman. Oleh karenanya curah hujan sangat besar pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman. Ketinggian tempat menentukan suhu udara, intensitas cahaya matahari dan mempengaruhi curah hujan, yang pada gilirannya mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Perbedaan ketinggian tempat dari permukaan laut menyebabkan perbedaan suhu lingkungan. Setiap kenaikan 100m dari permukaan laut, suhu akan turun sekitar 0,50C. Pada lahan yang tidak beririgasi, pertumbuhan tanaman ini memerlukan curah hujan ideal sekitar 85-200 mm/bulan dan harus merata. Pada fase pembungaan dan pengisian biji tanaman jagung perlu mendapatkan cukup air. Sebaiknya Jagung ditanam diawal musim hujan, dan menjelang musim kemarau. Jagung dapat ditanam di Indonesia mulai dari dataran rendah sampai di daerah pegunungan yang memiliki ketinggian antara 1000-1800 m dpl. Daerah dengan ketinggian optimum antara 0-600 m dpl merupakan ketinggian yang baik bagi pertumbuhan tanaman jagung.
3.    Tanah
Tanah merupakan komponen hidup dari lingkungan yang penting dalam mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Tanah yang menentukan penampilan tanaman. Kondisi kesuburan tanah yang relative rendah akan mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan tanaman dan akhirnya akan mempengaruhi hasil. Jenis tanah yang dapat ditanami jagung antara lain: andosol (berasal dari gunung berapi), latosol, grumosol, tanah berpasir. Pada tanah-tanah dengan tekstur berat (grumosol) masih dapat ditanami jagung dengan hasil yang baik dengan pengolahan tanah secara baik. Sedangkan untuk tanah dengan tekstur lempung/liat (latosol) berdebu adalah yang terbaik untuk pertumbuhannya. Keasaman tanah erat hubungannya dengan ketersediaan unsur-unsur hara tanaman. Keasaman tanah yang baik bagi pertumbuhan tanaman jagung adalah pH antara 5,6 - 7,5. Tanaman jagung membutuhkan tanah dengan aerasi dan ketersediaan air dalam kondisi baik. Tanah dengan kemiringan kurang dari 8 % dapat ditanami jagung, karena disana kemungkinan terjadinya erosi tanah sangat kecil. Sedangkan daerah dengan tingkat kemiringan lebih dari 8 %, sebaiknya dilakukan pembentukan teras dahulu.
4.    Suhu
Suhu udara mempengaruhi kecepatan pertumbuhan maupun sifat dan struktur tanaman. Tumbuhan dapat tumbuh dengan baik pada suhu optimum. Untuk tumbuhan daerah tropis suhu optimumnya berkisar 22-370C. Suhu optimum berkisar antara 25- 300C dan suhu maksimum 35-400C. Tetapi suhu kardinal (minimum, optimum, dan maksimum) ini sangat dipengaruhi oleh jenis dan fase pertumbuhan tanaman. Suhu yang dikehendaki tanaman jagung antara 21-34 derajat C, akan tetapi bagi pertumbuhan tanaman yang ideal memerlukan suhu optimum antara 23-27 derajatC. Pada proses perkecambahan benih jagung memerlukan suhu yang cocok sekitar 30 derajat C.
5.    Cahaya matahari
Cahaya matahari (radiasi surya) mempengaruhi pertumbuhan tanaman melalui tiga sifat yaitu intensitas cahaya, kualitas cahaya (panjang gelombang) dan lamanya penyinaran (panjang hari). Pengaruh ketiga sifat cahaya tersebut terhadap pertumbuhan tanaman adalah melalui pembentukan klorofil, pembukaan stomata, pembentukan anthocyanin (pigmen merah) perubahan suhu daun atau batang, penyerapan hara, permeabilitas dinding sel, transpirasi dan gerakan protoplasma.
6.    Hara dan air
Hara dan air memegang peranan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Salah satu fungsi dari kedua bahan ini adalah sebagai bahan pembangun tubuh makhluk hidup. Pertumbuhan yang terjadi pada tanaman (sampai batas tertentu) disebabkan oleh tanaman mendapatkan hara dan air. Bahan baku pada proses fotosintesis adalah hara dan air yang nantinya akan diubah tanaman menjadi makanan. Tanpa kedua bahan ini pertumbuhan tidak akan berlangsung. Hara dan air umumnya diambil tanaman dari dalam tanah dalam bentuk ion. Unsur hara yang dibutuhkan tanaman dapat dibagi atas dua kelompok yaitu hara makro dan mikro. Hara makro adalah hara yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah besar sedangkan hara mikro dibutuhkan dalam jumlah kecil. Nutrien yang tergolong kedalam hara makro adalah Carbon, Hidrogen, Oksigen, Nitrogen, Sulfur, Posfor, Kalium, Calsium, Ferrum. Sedangkan yang termasuk golongan hara mikro adalah Boron, Mangan, Molibdenum, Zinkum (seng) Cuprum (tembaga) dan Klor. Jika tanaman kekurangan dari salah satu unsur tersebut diatas maka tanaman akan mengalami gejala defisiensi yang berakibat pada penghambatan pertumbuhan (Hanum, 2008).
Pengaruh pemupukan akan menyebabkan tanaman dapat tumbuh dengan bagus tetapi dosis pupuk harus diperhatikan karena ketika tanaman mengalami kelebihan dosis akan mengakibatkan gangguan pertumbuhan tanaman seperti rentan terserang penyakit, tanaman kerdil dan lain-lain. Pengaruh pemupukan yang terlihat dari hasil dari data pengamatan adalah terjaddi perbedaan antara tinggi tanaman, jumlah duun juga mengalami perbedaan dan lain-lain. Hal tersebut disebabkan oleh kebutuhan nutrisi yang cukup bagi tanaman dan aerasi yang baik bagi akar tanaman sehingga tanaman jagung dapat tumbuh dengan baik. Pemupukan dilakukan untuk memperbaiki ketersediaan hara dalam tanah. Pada awal pertumbuhan vegetatif, kebutuhan tanaman akan hara (terutama nitrogen) sangat besar. Adapun pupuk fosfor (P) dan kalium (K) dibutuhkan tanaman pada fase reproduktif, terutama masa pembungaan dan pengisian benih. Pengaruh yang menguntungkan dari pemupukan terhadap fisiologi tumbuhan adalah kandungan senyawa dalam pupuk dapat berperan sebagai zat tumbuh seperti auxin, sehingga dapat meningkatkan kapasitas kecambah, meningkatkan permeabilitas membran tanaman sehingga meningkatkan pengambilan hara, dapat mengubah metabolisme karbohidrat dari tanaman dan pada saat yang sama untuk mendorong akumulasi gula terlarut, sehingga meningkatkan tekanan osmotic tanaman. Dalam kondisi kelembaban yang rendah, hal tersebut akan mendorong resistensi yang besar terhadap kelayuan, kombinasi senyawa-senyawa organik seperti dapat meningkatkan pertumbuhan akar (Nurwardani, 2008).
Dari data yang ada diatas dengan berbagai perlakuan kelompok 1 dan 4 dengan pupuk NPK (Urea, KCl dan SP36), kelompok 2 dan 5 menggunakan perlakuan NPK (Urea, KCl dan SP36) dan bahan organik 2% dan kelompok 3 dan 6 adalah tanpa perlakuan atau kontrol memiliki beberapa perbedaan seperti rata-rata tinggi tanaman, rata-rata jumlah daun, rata-rata diameter batang, rata-rata panjang akar dan rat-rata jumlah akar. Pada kelompok 1 dan 4 dengan perlakuan NPK memiliki rata-rata tinggi 169,55 cm pada minggu ke 8, rata-rata jumlah daun 14,05 cm pada minggu ke 8, rata-rata diameter 4,17 cm, rata-rata panjang akar 85,95 cm dan rata-rata jumlah akar 28,52 cm pada akhir pengamatan yaitu minggu ke 8. Untuk perlakuan NPK dan bahan organik pada kelompok 2 dan 5 memiliki peningkatan yang cukup signifikan pada minggu terakhir pengamatan, tinggi tanaman 176,71 cm, 12,56 cm untuk rata-rata jumlah daun, rata-rata diameter batang 8,625 cm, rata-rata panjang akar 77,83 cm dan rata-rata jumlah akar 31,71 cm. Untuk kelompok 3 dan 6 dengan perlakuan kontrol tinggi tanaman 61 cm, 8,2 cm untuk rata-rata jumlah daun, rata-rata diameter batang 3,2 cm, rata-rata panjang akar 16,15 cm dan rata-rata jumlah akar 3,17 cm. Perbedaan parameter yang diamati dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya adalah pengaruh unsur hara yang ada karena unsur hara merupakan nutris bagi tanaman untuk membentuk energi bagi proses produksi tanaman.
Ketersedian unsur hara merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi dalam pertumbuhan tanaman jagung. Keasaman tanah yang baik bagi pertumbuhan tanaman jagung adalah pH antara 5,6 - 7,5. Pembeerian pupuk merupakan salah satu cara dalam memenuhi kebutuhan unsur hara bagi tanaman sehingga tanaman tidak kekurangan unsur hara. Dalam prtikum ini pemberian pupuk dilakukan pada awal pertanaman tanaman dengan dosis yang berbeda-beda pada setiap kelompok. Pengaruh pemupukan dapat dilihat dari parameter pengamatan yang terdapat perbedaan karena pengaruh unur hara yang tersedia didalam tanah. Pupuk yang digunakan dapat memperbaiki sifat-sifat tanah seperti fisik, kimia dan biologi tanah sehingga berpengaruh terhadap ketersediaan unsur hara dan air yang ada didalam tanah.
Dosis pemupukan yang diberikan akan mempengaruhi kandungan nutrisi bagi tanaman yang tersedia didalam tanah. Pemupukan yang terlalu berlebihan dapat memberi penggaruh yang negatif bagi pertumbuhan tanaman karena unsur hara yang terkandung didalam tanah terlalu berlebihan maka pemberian dosis pupuk harus diperhatikan agar tidak merugikan bagi tanaman dan usaha budidaya tanaman. Perlakuan pemupukan yang baik pada pratikum ini adalah pemupukan dengan pupuk NPK dan ditambahakan bahan organik merupakan pemupukan yang paling baik digunakan dalam buudidaya tanaman jagung. Bahan organik berfungsi sebagai peningkata KTK dalam tanah karena terdapat kandungan C-organik yang baik dalam meningkatkan KTK dalam tanah. Untuk pupuk NPK berguna sbagai penambahan unsur hara yang kurang didalam tanah.


BAB 5 PENUTUP

5.1    Kesimpulan
Dari pembahan dan data yang didapat dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1.    Prospek tanaman jagung perlu dikembangkan di Indonesia karena Indonesia mendukung dalam budidaya jagung dan memiliki lahan yang luas yang belum dimanfaatkan.
2.    Dalam usaha budidaya tanaman jagung perlu memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman jagung.
3.    Pemupukan dapat berpengaruh dalam hasil tanaman jagung karena data menunjukkan berbagai perbedaan.
4.    Pemupukan yang paling baik untuk usaha budidaya tanaman jagung adalah pemupukan menggunakan pupuk NPK dan ditambahakan bahan organik

5.2    Saran
Budidaya tanaman jagung memiliki prospek yang bagus di Indonesia perlu dikembangkan karena beberapa lahan masih ada yang tidak digunakan secara maksimal. Usaha budidaya jagung harus memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman jagung agar tidak terjadi kerugian bagi pengusaha yang ada.


DAFTAR PUSTAKA

Al Omran et al. 2012. Management of Irrigation Water Salinity in Greenhouse Tomato Production under Calcareous Sandy Soil and Drip Irrigation. Journal Of Agricultural Science And Technology. Vol 14:939-950.

Fitter dan Hay. 1992. Fisiologi Lingkungan Tanaman. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Gardner, dkk. 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya. Jakarta: Universitas Indonesia (UI-Press).

Hanum, Chairani. 2008. Teknik Budidaya Tanaman Jilid 1 Untuk SMK. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

Kartasapoetra, Ance Gunarsih. 1990. Klimatologi Pengaruh Iklim Terhadap Tanah dan Tanaman. Jakarta: Bumi Aksara.

Kasniari dan Supadma. 2007. Pengaruh Pemberian Beberapa Dosis Pupuk (N, P, K ) dan Jenis Pupuk Alternatif terhadap Hasil Tanaman Padi (Oryza sativa L.) dan Kadar N, P, K Inceptisol Selemadeg, Tabanan. Agritrop. Vol 26(4): 168-176.

Mayadewi, Ni Nyoman Ari. 2007. Pengaruh Jenis Pupuk Kandang dan Jarak Tanam terhadap Pertumbuhan Gulma dan Hasil Jagung Manis. Agritrop. Vol 24(4): 153-159.

Mohammadi et al. 2009. Cumulative and Residual Effects of Organic Fertilizer Application on Selected Soil Properties, Water Soluble P, Olsen-p and P Sorption Index. Journal Of Agricultural Science And Technology. Vol 11: 487-497.

Nurwardani. 2008. Teknik Pembibitan Tanaman dan Produksi Benih Jilid 1 Untuk SMK. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

Ryan et al. 2009. Nitrogen Fertilizer Response of Some Barley Varieties in Semi-Arid Conditions in Morocco. Journal Of Agricultural Science And Technology. Vol 11: 227-236.

Salisbury dan Ross. 1995. Fisiologi Tumbuhan Jilid Dua Biokimia Tumbuhan Edisi Keempat. Bandung: ITB.

Siregar, dkk. 2008. Biologi Pertanian Jilid 2 Untuk SMK. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

Sutejo, Mul Mulyani. 1995. Pupuk dan Cara Pemupukan. Jakarta: Rineka Cipta.