Jumat, 17 Mei 2013

Laporan Produksi Tanaman 1"Kedelai"



BAB 1 PENDAHULUAN

1.1         Latar Belakang
Kedelai merupakan salah satu komuditas tanaman yang banyak dibudidayakan oleh masyarakat terutama di Indonesia. Jumlah kedelai yang diproduksi oleh masyarakat belum cukup untuk memenuhi permintaan pasar karena masih banyak masyarakat yang belum mengetahui tentang bagaimana cara membudidayakan kedelai yang benar dan baik dan tanah atau lahan untuk tanaman kedelai telah banyak dialih fungsikan sebagai gedung-gedung dan lain-lain. Kedelai sebagai bahan pokok untuk produksi industri rumah tangga seperti pembuatan tempe dan tahu. Tanaman kedelai ini dapat bersimbiosis mutualisme dengan mikroorganisme tanah seperti rhizobium. Rhizobium ini dapat meningkatkan kebutuhan N bagi tanaman.
Hasil tanaman kedelai juga dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu masih belum optimalnya penyebaran varietas unggul dimasyarakat, pemakaian pupuk yang belum tepat, penerapan teknologi dan cara bercocok tanam yang beum diperbaiki. Usaha untuk meningkatkan produksi tanaman kedelai adalah peningkatan taraf hidup petani dan memenuhi kebutuhan pasar maka perlu peningkatan produksi kedelai yang memenuhi standard baik kualitas dan kuantitas kedelai yang dihasilkan tetapi dalam melakukan hal tersebut perlu mengetahui atau memahami karakteristik tanaman kedelai yang akan ditanam seperti morfologi, fisiologi dan agroekologi yang diperlukan oleh tanaman kedelai sehingga dapat meningkatkan produksi kedelai di Indonesia.
Akar tanaman kedelai berfungsi sebagai pengambilan unsur hara dan mineral yang dibutuhkan oleh tanaman kedelai tersebut untuk tumbuh sehingga akar ini merupakann organ yang vital bagi setiap tanaman dan akar tanaman kedelai ini juga berfungsi tempat simbiosis oleh bakteri penambat N. Batang tanaman kedelai berfungsi sebagai tempat percabangan ranting tanaman serta sebagai tempat penghubung atau penyaluran unsur hara dan mineral dari akar ke batang dan penyaluran hasil fotosintesis dari daun ke seluruh tanaman. Daun tanaman kedelai berfungsi sebagai tempat proses fotosintesis yang digunakan tanaman untuk melangsungkan hidup tanaman atau lebih tepatnya sebagai dapur tanaman. Bunga kedelai berfungsi sebagai perkembangbiakan secara generatif tanaman kedelai. Biji tanaman kedelai berfungsi sebagai perkembangan generatif tanaman kedelai tersebut dan biji ini yang berguna bagi manusia sebagai bahan pokok makanan dan bahan lainnya dari tanaman kedelai.
Tanaman kedelai merupakan tanaman yang bersifat semusim yaitu tanaman yang hanya ditanam hanya sekali sehingga tidak dapat dipanen secara berulang-ulang. Tanaman kedelai ini kaya akan sumber protein sehingga banyak manfaatnya bagi manusia. Untuk umur kedelai sendiri tergantung pada varietas yang digunakan untuk budidaya. Ada kedelai yang berumur dalam yaitu lebih dari 90 hari dalam 1 kali panen, kedelai yang berumur sedang antara 85-90 panen dan ada juga umur kedelai yang berumur rendah yaitu kurang dari 75-85 hari pemanenan.
Upaya untuk meningkatkan produksi kedelai yang optimal perlu diperhatikan faktor lingkungan yang ada di lahan atau tempat budidaya tanaman kedelai serta teknik bercocok tanaman kedelai yang benar. Untuk faktor lingkungan meliputi beberapa faktor yaitu iklim, tanah dan tinggi tempat tanaman kedelai yang diperlukan untuk tumbuh secara optimal sedangkan untuk cara bercocok tanam yang benar seperti pemilihan varietas, pengolahan tanah, waktu tanam, persiapan benih, pemupukan dan pemeliharaan.

1.2         Tujuan
1.        Untuk mengetahui dan menghitung produktivitas tanaman kedelai.
2.        Untuk mengetahui teknik budidaya tanaman kedelai yang baik dan sesuai dengan kondisi tanah.



BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Kedelai merupakan salah satu tanaman C3 yang berarti tidak banyak membutuhkan sinar matahari yang cukup dalam setiap pertumbuhan tanaman tersebut dan peka terhadap pencahayaan. Tanaman C3 merupakan tanaman yang memerlukan intensitas cahaya matahari yang lebih rendah sehingga tanaman ini dapat membentuk rantai carbon sebanyak 3 buah dalam menambat carbon dioksida (CO2) dalam melangsungkan fotosintesis (Salisburi dan Ross, 1995). Untuk tanaman kedelai tidak perlu diadakan naungan karena salah satu tanaman C3 sehingga tanaman kedelai lebih efektif pada suhu antara 23-270 C dan ketinggian antara 0,5-500 m dari permukaan laut. Tanaman kedelai termasuk tanaman dikotil yang berarti memiliki kayu pada bagian batangnya dan termasuk dalam famili polog-polongan.
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi produksi tanaman kedelai dapat dari berbagai hal, salah satu contohnya yaitu faktor iklim. Iklim merupakan keadaan dimana yang sangat menentukan sehingga tidak semua tanaman dapat tumbuh pada iklim tertentu. Selain iklim dapat menentukan produktivitas tanaman kedelai tetapi dapat juga menentukan dalam hal kandungan gizi yang dihasilkan tanaman tetapi masyarakat tidak mementingkan gizi yang terkandung dalam tanaman kedelai tersebut yang penting bagi masyarakat adalah memproduksi tinggi dan mendapat keuntungan yang sebesar-besarnya. Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki iklim tropis yang hanya memiliki 2 musim yaitu musim hujan dan kemarau. Untuk daerah iklim tropis kandungan gizi didalam tanaman hanya banyak mengandung karbohidrat yang tinggi tetapi rendah kandungan protein pada setiap tanaman yang dihasilkan tetapi kedlai mampu memproduksi protein yang banyak (Kartasapoetra, 1990).
Peningkatan produktivitas tanaman kedelai merupakan hal yang penting dalam memenuhi kebutuhan pasar di Indonesia. Dalam hal peningkatan produksi tanaman kedelai ini perlu memperhatikan berbagai faktor seperti iklim, esensial, hama dan penyakit dan varietas tanaman yang akan ditanam. Salah satu faktok iklim yang berpengaruh dalam meningkatkan produksi tanaman adalah cahaya. Cahaya merupakan hasil dari gabungan antara berbagai warna yang ditimbulkan oleh sinar matahari atau benda lain yang dapat menghasilkan cahaya. Bagi tanaman cahaya sangat penting karena menyangkut berbagai hal dalam melakukan fotosintesis yang dibutuhkan oleh tanaman untuk melangsungkan hidupnya. Bukan hanya dalam hal fotosintesis cahaya yang diperlukan oleh tanaman tetapi proses pekembangan seperti perkecambahan, perpanjangan batang, membukanya hipocotyl, perluasan daun, sintesa klorofil, gerakan batang dan daun, pembukaan bunga dan dormansi tunas (Fitter dan Hay, 1992).
Faktor esensial merupakan faktor yang meliputi beberapa hal seperti air, unsur hara, sifat fisik tanah dan sifat biologi tanah. Air merupakan mineral yang terbentuk dari H2 dan O2 sehingga membentuk senyawa dihidrogen oksida (H2O). Air ini juga sebagai sumber kehidupan karena 90% makluk hidup memerlukan air dan juga 95% tubuh makluk hidup terdiri dari air. Bagi kindom plantae atau tanaman air merupakan hal pokok dalam melakukan berbagai kegiatan seperti fotosintesis, pebelahan sel, perkembangan tanaman dan lain-lain. Usaha untuk meningkatkan produksi tanaman terutama tanaman kedelai memerlukan air yang sesuai untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman kedelai. Air didapat tanaman kedelai dari dalam tanah melalui bulu-bulu akar tanaman. Masuknya air ke dalam akar melalui proses difusi yang terjadi pada sel akar tanaman. Untuk tanaman kedelai tanah yang paling bagus digunakan adalah tanah yang memiliki ketersedian air yang cukup selama pertumbuhan tanaman dan memiliki aerasi yang cukup (Gardner, dkk, 1991).
Irigasi merupakan salah satu usaha untuk memenuhi kebutuhan air bagi tanaman dengan membuat saluran-saluran irigasi sehingga ketika air dibutuhkan oleh tanaman petani perlu mengalirkan air ke dalam petak tanaman kedelai tersebut. Hal ini tersebut merupakan salah satu manfaat pengairan atau irigasi bagi tanaman dan petani. Untuk irigasi tanaman kedelai lebih baik menggunakan irigasi permukaan karena panjang akar tanaman menentukan untuk efektifitas tanaman tersebut mengambil air dan untuk menjangkau air tanah yang dalam selain itu irigasi ini hanya diperuntukkan bagi tanaman pangan seperti kedelai, padi dan lain-lain (Al Omran et al, 2012).
Salah satu pengurangan transpirasi yang disebabkan oleh sinar matahari yang cukup tinggi digunakan mulsa dalam budidaya tanaman kedelai. Mulsa ini dapat menggunalkan plastik atau bahan lain seperti daun tanaman lain tetapi prinsipnya adalah menutupi permukaan tanah tanaman untuk mengurangi transpirasi dari pengaruh intensitas cahaya yang tinggi (Syawal, 2007). Untuk tanaman kedelai penggunaan mulsa disarankan karena tanaman ini hidup pada iklim dimana suhu udara lebih dari 300 C sehingga air yang ada didalam tanah pada tanaman ini lebih mudah untuk menguap sehingga apabila tanaman kekurangan air akan menurunkan produksi tanaman tersebut.
Peningkatan produksi tanaman kedelai dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu salah satunya adalah pemupukan. Pengetahuan para petani dalam pemberian pupuk sangat kurang sehingga menyebabkan penurunan produksi tanaman kedelai. Para petani hanya menggunakan pengalaman sehingga tidak mengetahui pemberian pupuk dengan unsur apa dalam fase pertumbuhan dan perkembangan tanaman kedelai. Akibatnya kualitas tanaman kedelai di Indonesia menurun. Pemberian zat yang salah dapat menimbulkan akibat yang fatal bagi tanaman dan tanah serta petani mengalami kerugian. Kerugian tersebut seperti kematian tanaman yang dibudidayakan, timbulnya gejala-gejala penyakit tanaman yang baru, kerusakan sifat fisik tanah, tidak ekonomis dan lain sebagainya (Sutejo, 1995).
Unsur N yang dibutuhkan oleh tanaman dalam jumlah yang besar merupakan unsur hara yang digunakan tanaman untuk pertumbuhan tanaman sehingga dalam memenuhi unsur N tersebut dilakukan pemberian pupuk Urea. Tidak hanya digunakan dalam pertumbuhan tanaman unsur N tetapi dalam diferensiasi biji untuk perkembangan generatif tanaman (Ryan et al, 2009). Urea juga memiliki kandungan unsur N tinggi sehingga pemberian pupuk Urea ini dilakukan saat tanaman melakukan pertumbuhan vegetatif tetapi dalam melakukan pemupukan harus memperhatikan waktu, dosis pupuk yang diberikan, musim dan lain-lain. Hal tersebut dilakukan untuk memberikan efektivitas pemberian pupuk ke tanah dan dimanfaatkan bagi tanaman.
Pupuk organik merupakan perlakuan pemupukan yang menggunakan pupuk dari berbagai sisa hasil metabolisme makluk hidup seperti kotoran cair dan padat maupun sisa organ makluk hidup yang telah mati seperti daun dan batang tanaman. Kelemahan pemupukan bahan organik adalah pupuk organik perlu melalui proses yang lama sehingga keperluan unsur hara tanaman tidak langsung terpenuhi dan dapat memperlambat proses pertumbuhan tanaman. Salah satu pupuk organik yang banyak digunakan adalah penggunaan pupuk kandang. Pupuk kandanh merupakan hasil dari kotoran hewan ternak seperti sapi, unggas dan kambing dalam bentuk padat maupun cair. Pemberian pupuk kandang terutama dai ayam ini dapat meningkatkan kandungan unsur hara yang ada didalam tanah dan memperbaiki sifat fisik tanah sehingga dapat meningkatkan produktivitas tanaman kedelai terutama berat biji yang dihasilkan (Shanti, 2009). Karena pupuk kandang yang berasal dari ayam memiliki unsur N, P dan K cukup tinggi sehingga banyak digunakan para petani.
Pemberian pupuk baik pupuk kimia maupun pupuk organik perlu memperhatikan berbagai hal agar tidak terjadi dampak yang buruk bagi tanah maupun lingkungan sehingga dapat menurunkan produktivitas tanah dan tanaman akan keracunan unsur hara tertentu karena tidak memperhatikan dampak yang timbul. Salah satu contoh adalah unsur P. Ketika pemberian unsur P ke dalam tanah dapat menyebabkan residu didalam tanah karena unsur phosphat ini menyebabkan peningkatan asam organik didalam tanah sehingga tanah akan berubah menjadi asam sehingga tanaman akan mengalami kematian (Mohammadi et al, 2009). Tetapi unsur phospat ini yang mengendap dapat diurai menjadi unsur phospat yang lebih sederhana dengan penambahan BPF (Bakteri Pelarut Phospat) sehingga dapat dimanfaatkan oleh tanaman unsur phospat tersebut.



BAB 3 METODOLOGI

3.1         Waktu dan Tempat
Pratikum ini dilaksanakan pada hari Senin tanggal 08 Oktober 2012 pukul 13.30 WIB di Laboratorium Produksi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Jember.

3.2         Alat dan Bahan
3.2.1   Alat
1.        Cangkul
2.        Tugal
3.        Rol meter
4.        Tali rafia
5.        Papan nama
6.        Ayakan
7.        Timba
3.2.2   Bahan
1.        Benih kedelai
2.        Tanah
3.        Pupuk Urea, SP 36, dan KCl
4.        Polibag ukuran 40x60
5.        Tanah kering angin (diayak)

3.3         Cara Kerja
1.        Menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan.
2.        Menyiapkan media tanam dengan cara mengayak tanah dan menjemur sampai kering angin.
3.        Mengambil sampel tanah kemudian menganalisis dengan sidik cepat untuk mengetahui kondisi tanah meliputi pH, C-Organik dan sifat fisik tanah.
4.        Memasukkan tanah sebanyak 10 Kg kedalam poliba, untuk perlakuan menambahkan bahan organik yang sesuai dengan berat tanahnya, kemudian menyiram dengan air.
5.        Menanam benih kedelai pada masing-masing polibag, satu lubang diisi 2 biji kedelai.
6.        Menambahkan bahan organik dan pupuk Urea, SP 36 dan KCl sesuai dengan analisa dari sidik cepat yang telah dilakukan sedangkan pupuk Urea sesuai dengan perlakuan.
7.        Melakukan pengamatan secara rutin.


BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1    Hasil
------------------------------------------------
4.2    Pembahasan
Tanaman kedelai merupakan salah satu komoditas nomor 3 setelah jagung yang dikonsumsi polong kedelai sebagai bahan baku industri seperti industri tempe dan lain-lain. Kebutuhan kedelai di Indonesia semakin tahun semakin meningkat karena permintaan kebutuhan yang digunakan untuk perindustrian dan konsumsi masyarakat mengakibatkan kebutuhan kedelai dalam negri tidak dapat memenuhi kebutuhan konsumen sehingga pemerintah melakukan import dari negara penghasil kedelai. Banyak yang menjadi faktor dalam penurunan produksi kedelai dalam negri selain konsumsi kedelai meningkat. Pada dasarnya produktivitas mengalami peningkatan relatif tinggi dibandingkan dengan penurunan areal produksi tanaman kedelai yaitu produksi rata-rata meningkat 0,015% per tahun sedangkan untuk konsumsi per kapita meningkat pada tahun 2010 sekitar 1.64 juta ton dan diperkirakan pada 2013 sebesar 1.66 juta ton sehingga pemerintah perlu mengimport kedelai dari luar negi untuk memenuhi kebutuhan kedelai dalam negri (Darsono, 2009).
Peningkatan hasil produksi setiap tanaman dapat ditentukan oleh beberapa faktor lingkungan, cara budidaya dan lain-lain sehingga memperhatikan faktor-faktor tersebut dapat menghasilkan produksi tanaman terutama kedelai karena sampai saat ini Indonesia masih mengimpor dari luar kedelai karena pasokan dalam negri belum mampu mencukupi konsumsi dalam negri. Berikut beberapa tahapan dalam budidaya tanaman kedelai:
1. Persiapan
Terdapat 2 cara mempersiapkan penanaman kedelai, yakni: persiapan tanpa pengolahan tanah (ekstensif) di sawah bekas ditanami padi rendheng dan persiapan dengan pengolahan tanah (intensif). Persiapan tanam pada tanah tegalan atau sawah tadah hujan sebaiknya dilakukan 2 kali pencangkulan. Pertama dibiarkan bongkahan terangin-angin 5 - 7 hari, pencangkulan ke 2 sekaligus meratakan, memupuk, menggemburkan dan membersihkan tanah dari sisa - sisa akar. Jarak antara waktu pengolahan tanah dengan waktu penanaman sekitar 3 minggu.
2. Pembentukan Bedengan
Pembuatan bedengan dapat dilakukan dengan pencangkulan ataupun dengan bajak lebar 50 - 60 cm, tinggi 20 cm. Apabila akan dibuat drainase, maka jarak antara drainase yang satu dengan lainnya sekitar 3 - 4 m.
3. Pengapuran
Tanah dengan keasaman kurang dari 5,5 seperti tanah podsolik merah-kuning, harus dilakukan pengapuran untuk mendapatkan hasil tanam yang baik. Kapur dapat diberikan dengan cara menyebar di permukaan tanah, kemudian dicampur sedalam lapisan olah tanah sekitar 15 cm. Pengapuran dilakukan 1 bulan sebelum musim tanam, dengan dosis 2 - 3 ton/ha. Diharapkan pada saat musim tanam kapur sudah bereaksi dengan tanah, dan pH tanah sudah meningkat sesuai dengan yang diinginkan. Kapur halus memberikan reaksi lebih cepat daripada kapur kasar. Sebagai sumber kapur dapat digunakan batu kapur atau kapur tembok. Pemberian kapur tidak harus dilakukan setiap kali tanam, tetapi setiap 3 - 4 tahun sekali. Dengan pengapuran, tanah menjadi kaya akan Calsium (Ca) dan Magnesium (Mg) dan pH-nya meningkat. Selain itu peningkatan pH dapat menaikkan tingkat persediaan Molibdenum (Mo) yang berperan penting untuk produksi kedelai dan golongan tanaman kacang-kacangan, karena erat hubungannya dengan perkembangan bintil akar.
4. Penentuan Pola Tanam
Jarak tanam pada penanaman dengan membuat tugalan berkisar antara 20 - 40 cm. Jarak tanam yang biasa dipakai adalah 30 x 20 cm, 25 x 25 cm, atau 20 x 20 cm. Jarak tanam hendaknya teratur, agar tanaman memperoleh ruang tumbuh yang seragam dan mudah disiangi. Jarak tanam kedelai tergantung pada tingkat kesuburan tanah dan sifat tanaman yang bersangkutan. Pada tanah yang subur, jarak tanam lebih renggang, dan sebaliknya pada tanah tandus jarak tanam dapat dirapatkan. Penentuan pola tanam ini juga dapat mempermudah petani dalam melakukan pengairan dan irigasi sehingga tidak terganggu pada pertumbuhan dan perkembangan tanaman.
5. Waktu Tanam
Pemilihan waktu tanam kedelai ini harus tepat, agar tanaman yang masih muda tidak terkena banjir atau kekeringan. Karena umur kedelai menurut varietas yang dianjurkan berkisar antara 75 - 120 hari, maka sebaiknya kedelai ditanam menjelang akhir musim penghujan, yakni saat tanah agak kering tetapi masih mengandung cukup air. Waktu tanam yang tepat pada masing-masing daerah sangat berbeda. Sebagai pedoman: bila ditanam di tanah tegalan, waktu tanam terbaik adalah permulaan musim penghujan. Bila ditanam di tanah sawah, waktu tanam paling tepat adalah menjelang akhir musim penghujan. Di lahan sawah dengan irigasi, kedelai dapat ditanam pada awal sampai pertengahan musim kemarau.
7. Pemupukan
Dosis pupuk yang digunakan sangat tergantung pada jenis lahan dan kondisi tanah. Pada tanah subur atau tanah bekas ditanami padi dengan dosis pupuk tinggi, pemupukan tidak diperlukan. Pada tanah yang kurang subur, pemupukan dapat menaikkan hasil. Dosis pupuk secara tepat adalah sebagai berikut:
a) Sawah kondisi tanah subur: pupuk Urea=50 kg/ha.
b) Sawah kondisi tanah subur sedang: pupuk Urea=50 kg/ha, TSP=75 kg/ha dan KCl=100 kg/ha.
c) Sawah kondisi tanah subur rendah: pupuk Urea=100 kg/ha, TSP=75 kg/ha dan KCl=100 kg/ha.
d) Lahan kering kondisi tanah kurang subur: pupuk kandang=2000 - 5000 kg/ha; Urea=50 - 100 kg/ha, TSP=50 - 75 kg/ha dan KCl=50-75 kg/ha.
8. Penyulaman
Benih yang tidak tumbuh segera disulam, sebaiknya memakai bibit dari varietas dan kelas yang sama. Penyulaman paling lambat pada saat tanaman berumur 1 minggu.
9. Penyiangan
Penyiangan dilakukan paling sedikit dua kali, karena di lahan kering gulma tumbuh dengan subur pada musim penghujan. Penyiangan I pada saat tanaman berumur 2 minggu, menggunakan cangkul. Penyiangan II bila tanaman sudah berbunga (kurang lebih umur 7 minggu), menggunakan arit atau gulma dicabut dengan tangan.
10. Pengendalian hama
Tidak kurang dari 100 jenis serangga dapat menyerang kedelai. Pengendalian di tingkat petani terutama di daerah sentra produksi sering menggunakan insektisida secara berlebihan tanpa memperdulikan populasi hama. Hal ini selain menambah biaya juga merusak lingkungan dan menimbulkan kematian serangga berguna. Untuk mengurangi frekuensi pemberian insektisida adalah dengan aplikasi insektida berdasarkan pemantauan hama. Insektisida hanya akan digunakan bila kerusakan yang disebabkan oleh hama diperkirakan akan menimbulkan kerugian secara ekonomi, yaitu setelah tercapainya ambang kendali.
11. Panen
Kedelai harus dipanen pada tingkat kemasakan biji yang tepat. Panen terlalu awal menyebabkan banyak biji keriput, panen terlalu akhir menyebabkan kehilangan hasil karena biji rontok. Ciri-ciri tanaman kedele siap panen adalah :
a.         Daun telah menguning dan mudah rontok
b.        Polong biji mengering dan berwarna kecoklatan
c.         Panen yang benar dilakukan dengan cara menyabit batang dengan menggunakan sabit tajam dan tidak dianjurkan dengan mencabut batang bersama akar. Cara ini selain mengurangi kesuburan tanah juga tanah yang terbawa akan dapat mengotori biji.
(Nurwardani, 2008)
Tanaman kedelai merupakan salah satu tanaman polong-polongan yang mempunyai nilai gizi tinggi terutama protein dalam polong yang dihasilkan. Tanaman ini juga banyak sekali manfaatnya mulai dari polong sampai daunnya. Kedelai memiliki morfologi yang berkembang vegetatif dan generatif. Secara vegetatif tanaman ini meliputi akar, batang dan daun sedangkan perkembangan secara generatif meliputi bunga dan buah atau biji. Morfologi tanaman ini dapat dijelaskan sebagai berikut:
1.    Akar
Tanaman kedelai ini memiliki akar tunggang yang membentuk cabang-cabang yang pertumbuhannya menyamping dan tidak jauh dari permukaan tanah. Akar tanaman pada umumnya berfungsi sebagai penyerapan air tetapi pada tanaman kedelai ini juga sebagai tempat asosiasi dengan bakteri penambat N bebas sehingga tanaman tidak memerlukan N dalam jumlah banyak.
2.    Batang
Tipe pertumbuhan batang tanaman kedelai dibedakan menjadi 3 macam yaitu determediet, indeterrmediet dan semidetermediet. Dari ketiga macam pertumbuhan batang kedelai ini didasarkan pada letak pucuk bunga yang ada. Ketiga macam pertumbuhan tersebut memeiliki beberapa perbedaan terutama terlihat pada percabangan tanaman ini.
3.    Daun
Daun tanaman memiliki beberapa fungsi antara lain adalah melakukan fotosintesis, melakukan respirasi dan lain-lain. Daun tanaman kedelai ini termasuk daun majemuk yang terdiri dari tiga helai anak daun dan pada umumnya berwarna hijau atau hijau kekuning-kuningan. Bentuk daun oval dan ada juga yang segi tiga.
4.    Bunga
Bunga kedelai pada umumnya digunakan sebagi perkembangbiakan tanaman secara generatif. Bunga kedelai mempunyai bentuk bunga seperti kupu-kupu, mempunyai 2 mahkota bunga dan dua kelopak bunga. Warna bunga putih bersih atau ungu muda. Biasanya bunga tumbuh pada ketiak daun dan berkembang dari bawah lalu muncul keatas.
5.    Buah atau biji
Biji pada umumnya merupakan hasil pembuahan yang dilakukan oleh tanaman untuk meneruskan generasi berikutnya. Pada tanaman kedelai ini memiliki biji yang kaya akan protein sehingga dapat dimanfaatkan sebagai produk bahan baku industri. Biji kedelai dapat dihasilkan 100-250 biji setiap tanaman. biji kedelai berada didlam polong setiap polong berisi sekitar 1-4 biji. Polong memiliki bulu berwarna kuning kecoklatan atau kuning muda. Polong masih muda biasanya berwarna hijau muda sedangkan yang tua berwarna kuning kecoklatan dan mudah pecah pada polong tua (Nurwardani, 2008).
Tanaman kedelai merupakan salah satu tanaman yang dapat bersimbiosis dengan bakteri penambat N bebas dalam tanah atau tanaman leguminose sehingga tanaman ini sangat jarang sekali memerlukan unsur hara N dalam jumlah yang besar. Tanaman leguminose mempunyai kemampuan simbiosis secara mutualistik dengan bakteri rhizobium sp yang tumbuh didaerah sekitar akar tanaman (Fuskhah, dkk, 2009). Ciri-ciri dari tanaman yang dapat bersimbiosis dengan bakteri penambat N yaitu adanya bintil atau nodul disekitar akar tanaman tersebut apabila dibuka bintil tersebut berwarna yang bermacam-macam sesuai kebutuhan N yang digunakan oleh tanaman.
Dari pratikum yang telah dilakukan terdapat banyak tanaman yang mati sehingga tanaman kedelai kemudian ada yang disulam. Penyebab kematian tanaman kedelai pada pratikum ini disebabkan oleh ketersedian air yang kurang mencukupi bagi tanaman, kedalaman biji yang digunakan kurang efisien dan intensitas cahaya matahari yang terlalu berlebih. Ketersedian air untuk tanaman kedelai kurang karena dilapang sumber air sangat sulit dan waktu penanaman tanaman tepat pada musim kemarau yang menyebabkan penguapan air dari dalam tanah sehingga ketersedian air bagi tanaman kurang yang diakibatkan intensitas cahaya terlalu berlebih. Pada penanaman biji tanaman kedelai digunakan kedalaman 3-5 cm dari permukaan tanah, dalam pratikum ada biji kedelai yang tidak tumbuh karena kedalaman tanam kurang efisien sehingga tanaman terhambat pertumbuhannya. Untuk solusi dari berbagai masalah yang ada agar tanaman kedelai yangdiusahakan dapat tumbuh secara optimal maka dapat dilakukan pemahaman dalam cara budidaya tanaman kedelai dan waktu tanam yang tepat sehingga tanaman dapat tumbuh secara normal.
Dari data tanaman kedelai yang dilakukan dengan perlakuan dengan perbedaan dosis pupuk terdapat perbedaan mulai dari tinggi tanaman sampai jumlah bintil akar tanaman kedelai. Setiap kelompok memiliki persamaan yaitu peningkatan tinggi tanaman, jumlah daun dan jarak antar ruas tetapi pada kelompok 3 dan 6 rata-rata jarak antar ruas memiliki data yang kecil yaitu 2,2 cm pada minggu ke 5 dibandingkan data dari kelompok yang lain, hal tersebut diakibatkan karena adanya tanaman kedelai yang disulam sehingga pertumbuhan tanaman kedelai berbeda dan berpengaruh dalam pertumbuhan ruas tanaman kedelai. Untuk perlakuan yang baik dalam mempengaruhi panjang akar tanaman yaitu terdapat pada kelompok 1 dan 4 yaitu 27,6 cm sehingga berpengaruh dalam proses eksploitasi unsur hara dan air didalam tanah. Untuk jumlah akar yang paling baik terdapat pada kelompok 3 dan 6 yaitu 11 yang berfungsi sebagai penyebaran akar tanaman didalam tanah sehingga jumlah akar yang banyak berpengaruh dalam optimalisasi penyerapan air dan unsur hara dalam tanah. Semakin banyak bintil maka penyerapan unsur hara terutama N dapat dioptimalkan oleh akar tanaman karena bintil banyak mengandung bakteri penambat N bebas sehingga mengurangi penggunaan pupuk Urea. Perlakuan yang paling bagus dalam jumlah bintil akar yang baik adalah perlakuan 2 dan 5 yaitu mempunyai bintil sebesar 16,6. Perlakuan yang paling bagus adalah pada kelompok 2 dan 5 karena memiliki bintil akar yang banyak sehingga tanaman dapat efisien dalam penggunaan unsur hara N.



BAB 5 PENUTUP

5.1    Kesimpulan
Dari hasil dan pembahasan diatas maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1.        Pengimporan kedelai di Indonesia perlu dilakukan karena ada beberapa faktor yang mengharuskan pemerintah untuk mengimpor kedelai demi kepentingan ketahanan pangan Nasional.
2.        Adanya bakteri penambat N bebas membantu tanaman kedelai dalam mengefisienkan pemupukan yang diberi petani sehingga tanaman kedelai memerlukan sedikit unsur N dalam pemupukan tanaman.
3.        Terdapat beberapa faktor yang berpengaruh dalam kematian tanaman kedelai.

5.2    Saran
Untuk melakukan budidaya untuk tanaman pertanian terutama kedelai perlu memperhatikan beberapa faktor yang dapat menghambat dalam produksi tanaman kedelai seperti lingkungan, cara budidaya dan lain-lain serta memperhatikan dosis pupuk yang akan diberikan sehingga pemberian pupuk lebih efisien digunakan tanaman.


DAFTAR PUSTAKA

Al Omran et al. 2012. Management of Irrigation Water Salinity in Greenhouse Tomato Production under Calcareous Sandy Soil and Drip Irrigation. Journal Of Agricultural Science And Technolog 14: 939-950.
Darsono. 2009. Analisis Dampak Pengenaan Tarif Impor Kedelai bagi Kesejahteraan Masyarakat. Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian 5(1): 1-21.
Fitter dan Hay. 1992. Fisiologi Lingkungan Tanaman. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Gardner, dkk. 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya. Jakarta: Universitas Indonesia (UI-Press).
Kartasapoetra, Ance Gunarsih. 1990. Klimatologi Pengaruh Iklim Terhadap Tanah dan Tanaman. Jakarta: Bumi Aksara.
Mohammadi et al. 2009. Cumulative and Residual Effects of Organic Fertilizer Application on Selected Soil Properties, Water Soluble P, Olsen-p and P Sorption Index. Journal Of Agricultural Science And Technology 11: 487-497.
Nurwardani. 2008. Teknik Pembibitan Tanaman dan Produksi Benih Jilid 1 Untuk SMK. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
Purwaningsih, Sri. 2007. Isolasi, Enumerasi, dan Karakterisasi Bakteri Rhizobium dari Tanah Kebun Biologi Wamena, Papua. Biodiversitas 6(2): 82-84.
Ryan et al. 2009. Nitrogen Fertilizer Response of Some Barley Varieties in Semi-Arid Conditions in Morocco. Journal Of Agricultural Science And Technologyl 11: 227-236.
Salisbury dan Ross. 1995. Fisiologi Tumbuhan Jilid Dua Biokimia Tumbuhan Edisi Keempat. Bandung: ITB.
Shanti, Ratna. 2009. Pengaruh Pupuk Kandang Ayam dan Pengolahan Tanah terhadap Hasil Kacang Tanah (Arachis hypogea L). Jurnal Agrifor 8(1): 40-47.
Syawal, Yernelis. 2007. Efek Mulsa Alang-Alang, Pupuk P dan Pengolahan Tanah pada Tanaman Kedelai dan Gulma. Jurnal Agrivigor 6(2): 161-168.
Sutejo, Mul Mulyani. 1995. Pupuk dan Cara Pemupukan. Jakarta: Rineka Cipta.