Senin, 13 Mei 2013

Laporan Teknik Media Tanam (Sawi)



BAB 1. PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Media tanam merupakan salah satu komponen yang harus ada dalam melakukan penanaman tanaman yang diingnkan atau budidaya tanaman tertentu. Menentukan media tanam yang akan digunakan dalam budidaya tanaman sangat sulit karena untuk menentukan media yang baik harus memperhatikan iklim, cuaca dan lain-lain yang berhubungan dengan faktor yang menentukan cepat lambatnya pertumbuhan tanaman tersebut. Salah satu penentu dalam media tanam yang digunakan adalah komposisi media dan pemberian pupuk yang digunakan. Kedua hal tersebut sangat menentukan dalam mempercepat pertumbuhan tanaman dan ketersedian unsur hara dan air didalam media tanam tersebut.
Tanah merupakan salah satu media tanam yang umum digunakan dalam melakukan penanaman tanaman budidaya dan tanaman pangan. Pada umumnya tanah memiliki kekurangan dan kelebihan tergantung dari iklim yang ada pada suatu wilayah tertentu. Tanah juga sebagai habitat mikroorganisme yang berguna untuk membantu tanaman dalam menyerap unsur hara dalam bentuk ion. Tetapi, ada juga tanah yang tidak bisa menyediakan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman seperti tanah yang tercemar oleh logam berat dan lain-lain.
Rekayasa media tanam dilakukan untuk mencari media tanam yang baik digunakan dalam budidaya tanaman dan tanaman pangan. Hal tersebut juga dilakukan untuk meminimalkan kekurangan dari masing-masing media tanam sehingga dapat menguntungkan bagi tanaman. Campuran tanah dan kompos merupakan salah satu rekayasa media tanam yang dilakukan untuk mendapatkan media yang ideal bagi tanaman misalnya kompos merupakan media tanam yang kaya akan bahan organik tetapi juga memiliki kekurangan seperti dapat merangsang pertumbuhan bakteri dan jamur yang patogen bagi tanaman, sedangkan tanah merupakan media tanam yang umum digunakan dalam melakukan penanaman tanaman budidaya maupun tanaman pangan. Tanah juga memiliki kelebihan misalnya tingkat aerasi tinggi, dan lain-lain, tetapi juga tanah ada juga yang memiliki kekuranan seperti tanah yang tercemar oleh logam berat tidak mampu menyediakan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman.
Tanaman yang digunakan dalam rekayasa media tanam biasanya digunakan tanaman yang mudah dibudidayakan seperti sawi, cabe, tomat dan lain-lain. Sawi sekelompok tumbuhan darimarga Brassica yang dimanfaatkan daun atau bunganya sebagai bahan pangan (sayuran).  Petani banyak yang memilih menanam sawi karena memang relative cukup mudah membudidayakannya. Sawi juga mengandung serat, vitamin A, vitamin B, vitamin B2, vitamin B6, vitamin C, kalium, fosfor, tembaga, magnesium, zat besi, dan protein. Dengan kandungannya tersebut, Sawi Hijau berkhasiat untuk membantu kesehatan. Untuk membudidayakan tanaman sawi perlu diperhatikan cuaca, kondisi iklim yang ada disuatu tempat tertentu. Tanaman ini juga tahan terhadap air hujan sehingga dapat ditanam sepanjang tahun dan masa panenya tidak bergantung pada musim. Tanah yang cocok untuk sawi adalah tanah yang gembur, banyak mengandung humus, subur dan drainase yang baik serta pH tanah antara 6-7.

1.2  Tujuan
Untuk mendapatkan media tanam yang baik dalam melakukan budidaya tanaman tertentu.



BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

Media tanam merupakan salah satu komponen yang berpengaruh terhadap perkembangan dan pertumbuhan tanaman yang akan ditanam atau dibudidayakan (Fatimah dan Handarto, 2008). Media tanam yang baik tersebut harus dapat memenuhi kebutuhan unsur hara dan mineral yang dibutuhkan oleh tanaman baik dari sifat fisik, kimia maupun biologi. Sifat fisik media tanam dapat menentukan dalam tekstur tanah yang dibutuhkan dalam pertumbuhan akar tanaman. Sifat kimia dapat mempengaruhi media tanam dalam menyediakan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman. Sedangkan sifat biologi tanah menentukan dalam habitat mikroorganisme didalam media sehingga mempengaruhi dalam kesuburan dan tekstur media tanam.
Nilai pertanian dari suatu pupuk tidak menentu, karena bahan ini mudah berubah. Oleh karenanya macam dan jumlah pupuk yang diberikan harus dapat mengikuti berbagai macam perubahan karena, Tanah dan pupuk terjadi reaksi kimia dan biologis yang mempengaruhi mutu pupuk, serta iklim yang dapat mempengaruhi tanah, tanaman dan pupuk. Perlu diperhatikan. Bila ada kelebihan atau kekurangan air, efisien penuh dari pemupukan sukar diharapkan. Sebetulnya, setiap faktor yang dapat membatasi pertumbuhan tanaman akan menurunkan efensiansi pemupukan, dan akibatnya respons dari tanaman terhadap pemupukan juga tergangu. Jika faktor-faktor lain tidak merupakan pembatas, maka jumlah pupuk dapat ditentukan dengan tingkat kepastian tertentu. Meskipun keadaannnya sangat kompleks, petunjuk-petunjuk tertentu dapat diikuti dalam menentukan macam atau jumlah pupuk yang harus di berikan. Hal-hal yang perlu diperhatikan
adalah:
1.      Macam tanaman yang akan diusahakan: nilai ekonomi tanaman, kemampuan tanaman menyerap hara
2.      Keadaan kimia tanahsehubungan dengan jumlah hara tersedia
3.      Keadaan fisik tanah sehubungan dengan kadar air dan aerasi media (Hanum, 2008).

Tanah pertanian yang digunakan dalam menanam tanaman budidaya maupun tanaman pangan biasanya terdapat pasir dengan komposisi yang banyak sehingga tanah pertanian tersebut bertekstur ringan, mempunyai kapasitas yang rendah dalam menyimpan air dan unsur hara, dan rentan terhadap erosi (Djajadi, dkk, 2010). Faktor-faktor dalam media tanam sangat mempengaruhi dalam pertumbuhan tanaman sehingga tanaman yang akan ditanam dapat tumbuh dengan baik. Media tanam yang sehat biasanya dapat memenuhi unsur hara bagi tanaman, tidak ada patogen yang dapat menyerang akar baik nematoda, bakteri maupun jamur yang bisa merusak akar tanaman sehingga dapat merugikan tanaman.
Unsur yang dibutuhkan oleh tanaman merupakan unsur makro seperti N,P dan K. Unsur hara tersebut biasanya didapat dari penambahan pupuk yang dilakukan oleh petani. Biasanya pupuk yang digunakan untuk menambah N biasanya urea, unsur P biasanya terdapat pada pupuk SP 36 dan unsur K biasanya terdapat pada KCl. Pemberian pupuk biasanya dilakukan dengan 2 tahap yaitu sebelum tanam dan setelah penanaman dengan umur tanaman tertentu (Susila, 2006). Pupuk digunakan untuk penambahan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman sehingga tanaman mendapatkan unsur hara dan juga dapat mendukung pertumbuhan tanaman. Dalam melakukan pemupukan harus memperhatiakan dosis yang akan diberikan kepada tanaman agar tidak terjadi keracunan unsur hara pada tanaman sehingga berkembang cara penanaman tumbuhan dengan memberikan nutrisi yang tepat bagi tumbuhan ().
Media tanam yang baik adalah media tanam yang dapat menyediakan unsurhara bagi tanaman dan tidak tercemar oleh senyawa-senyawa yang merugikan tanaman dan media tanam tersebut. Dalam beberapa pupuk yang diberikan ke tanaman biasanya digunakan unsur Pb sebagai pemberat yang berguna bagi pupuk sehingga pupuk dapat bertahan lama dalam tanah. Tetapi unsur Pb ini merupakan salah satu unsur logam berat yanag dapat merusak struktur tanah sehingga tanah tersebut tercemar oleh logam berat yang tidak dapat dikurangi oleh tanah tersebut (Hendrasarie, Novirina, 2007).
Salah satu yang penting dalam membudidayakan tanaman adalah benih yang digunakan. Benih yang digunakan biasanya digunakan benih yang memiliki kualitas yang baik dan telah dijamin oleh badan pemerintah yang menangani benih yang akan diedarkan oleh perusahaan bersangkutan. Sebaiknya dalam melakukan pembenihan dilakukan dengan cara persemaian benih. Benih yang ditumbuhkan pada media semai akan melakukan proses perkecam-bahan (germination). Perkecambahan benih sangat dipengaruhi oleh viabilitas benih dan lingkungan yang cocok untuk pertumbuhan dan perkem-bangan bibit (Nurwardani, Paristiyanti, 2008).
Sawi (Brassica juncea L.) merupakan jenis tanaman sayuran daun yang memiliki nilai ekonomis tinggi setelah kubis dan brokoli. Selain itu, tanaman sawi juga mengandung mineral, vitamin, protein dan kalori. Sawim dapat tumbuh di dataran tinggi maupun rendah yaitu 3-1.200 m dpl, namun tinggi tempat yang optimal adalah 100-500 m dpl. Sawi banyak dibudidayakan para petani di dataran rendah karena akan sedikit lebih menguntungkan (Haryanto dkk, 2008).  Tanaman ini juga dibudidayakan sangat mudah sehingga di Indonesia tanaman ini cukup populer. Tanaman sawi berasal dari China yang beriklim dingin tetapi di Indonesia daapat dibudidayakan dengan mudah dengan ketinggian tertentu. Budidaya tanaman sawi perlu diperhatikan ketinggian dan iklim yang sangat berpengaruh dalam budidaya tanaman ini. Sawi juga mengandung serat, vitamin A, vitamin B, vitamin B2, vitamin B6, vitamin C, kalium, fosfor, tembaga, magnesium, zat besi, dan protein (Nusifera, Sosiawan, 2001).
Pada budidaya tanaman, khususnya sawi, baik pembibitan maupun penanaman dilahan media tanam merupakan salah satu faktor penting yang perlu diperhatikan. Media Tumbuh di lahan atau tanah adalah tempat tumbuh tumbuhan di atas permukaan bumi. Di dalam tanah terdapat air, udara dan berbagai hara tumbuhan untuk proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Air yang beada dalam tanah sangat pentig untuk proses kimia, biologi dan fisika tanah. Sebagain air tanah terdapat dalam bentuk lapisan tipis yang dinamakan air kapiler. Air kapiler membentuk larutan tanah yang berfungsi seba-gai sumber unsur hata tumbuhan. Udara dalam tanah beasal dari udara atmosfir yang mengandung sekitar 21% Okigen, 78% nitrogen, dan 1% CO2 beserta gas lainnya. Semua gas tersebar dalam poripori tanah atau terlarut dalam tanah. Akar dan organisme tanah memerlukan oksigen untuk proses pernafasan (respirasi). Oksigen dalam tanah digunakan oleh se-mua mahluk hidup dalam tanah, baik organisme maupun mikroor-ganisme, sehingga konsentrasi oksigen dalam tanah akan lebih rendah dibandingakan dengan oksigen di atas permukaan tanah (atmosfir). Di dalam tanah terdapat nitrogen, fosfor, belerang, kalium, kalsium dan magnesium dalam jumlah yang relative banyak (unsur hara makro) dan terdapat sedikit besi, mangan, boron, seng dan tembaga (unsur hara mikro). Beberapa tumbuhan membutuhkan beberapa unsur lain seperti natrium, molibdenum, klor, flour, iod, silikon, strontium. Hara esensial (penting) sebagian besar terdapat dalam tanah. Nitogen merupakan unsur hra yang sangt penting bagi tumbuhan. Nitrogen merupakan ba-han baku untuk penyusunan protein dan asam amino tumbuhan. Nitoden diserap oleh tumbuhan dalam bentuk nitrat dan amonium. Fosfor dibentuk pada tanah mineral dan berbagai senyawa organik. Fosfor diserap oleh tanaman dalam bentuk ion fospat. Belerang ditemukan dalam tanah mineral. Belerang diserap oleh tumbuhan dalam bentuk sulfat. Kalium, kalsium dan magnesium merupakan logam. Pada saat ketiga logam tersebut di atas bereksi dengan air maka akan dibebaskan ion-ion kalium, kalsium dan magnesium (Nurwandani, 2008).




BAB 3. METODOLOGI

3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum acara 2 teknik media tanam dengan judul “rekayasa media tanam” dilaksanakan mulai tanggal 1 maret 2012 sampai rentang waktu 1 bulan, yang berakhir pada tanggal 7 april 2012 dan dilaksanakan di lahan Agrotecno Park, Universitas Jember.
3.2 Bahan dan Alat
3.2.1 Bahan
1.      Tanah  kering angin lolos mata saing 2 mm
2.      Bahan organik
3.      Sekam
4.      Bibit sawi
5.      Pupuk nitrogen (urea)
6.      Air
3.2.2 Alat
1.      Timba plastik
2.      Ayakan 2 mm
3.      Karung plastik
4.      Cawan timbang
5.      Polibag
6.      Timbangan
3.3 Cara Kerja
3.3.1 Media Tanam Kombinasi I
1.        Menimbang tanah kering angina sebanyak 2 kg.
2.        Memasukkan dalam pot.
3.        Membasahi dengan air sedikit demi sedikit sebanyak 2 kg.
4.        Menimbang dan mencatat beratnya.
5.        Menutup pot untuk menghindari air hujan atau gangguan lain dan membiarkan selama 7 hari.
6.        Mengukur pH tanah.
7.        Menambah dengan air hingga bobotnya kembali ke berat semula (kapasitas lapang) apabila terjadi perubahan berat.
8.        Mengusahakan agar tidak terjadi penutupan pori-pori bagian atas tanah dalam panambahan air.
9.        Mengulangi pekerjaan tersebut sebanyak 3 kali.
10.    Merawat tanaman :
a.         Menjaga kebersihan dengan cara melakukan penyiangan rumput dan gulma sekitar area tanaman setiap hari.
b.        Melakukan perlindungan tanaman terhadap gangguan OPT.
c.         Menjaga tanaman agar tidak layu permanen, dengan cara menambah kekurangan air ke berat semula.
11.    Memanen tanaman setelah berumur 35 hari
a.         Membongkar tanaman secara hati-hati.
b.        Membersihkan tanah yang melekat pada tanaman dengan mencelupkan ke dalam air.
c.         Menimbang tanaman yang sudah bersih tersebut.
d.        Mengukur pH tanah masing-masing pot.

3.3.2        Media Tanam Kombinasi II
1.        Menimbang tanah kering angin sebanyak 2 kg.
2.        Membasahi hasil campuran dengan air sedikit demi sedikit hingga kapasitas lapang sebanyak 2 kg.
3.        Memasukkan dalam pot.
4.        Menimbang dan mencatat beratnya.
5.        Menutup pot untuk menghindari air hujan atau gangguan lain dan membiarkan selama 7 hari.
6.        Mengukur pH tanah.
7.        Menambah dengan air hingga bobotnya kembali ke berat semula (kapasitas lapang) apabila terjadi perubahan berat.
8.        Mengusahakan agar tidak terjadi penutupan pori-pori bagian atas tanah dalam panambahan air.
9.        Mengulangi pekerjaan tersebut sebanyak 3 kali.
10.    Melakukan penanaman bibit sawi.
11.    Melakukan pemupukan.
a.         Melakukan pemupukan pertama setelah memindahkan tanaman dari polybag ( 5 g Urea).
b.         Melakukan pemupukan kedua 15 hari setelah tanaman dipindah dari polybag (5 g Urea).
12.    Merawat tanaman :
a.         Menjaga kebersihan dengan cara melakukan penyiangan rumput dan gulma sekitar area tanaman setiap hari.
b.         Melakukan perlindungan tanaman terhadap gangguan OPT.
c.         Menjaga tanaman agar tidak layu permanen, dengan cara menambah kekurangan air ke berat semula.
13.    Memanen tanaman setelah berumur 35 hari
a.         Membongkar tanaman secara hati-hati.
b.         Membersihkan tanah yang melekat pada tanaman dengan mencelupkan ke dalam air.
c.         Menimbang tanaman yang sudah bersih tersebut.
d.         Mengukur pH tanah masing-masing pot.

3.3.3        Media Tanam Kombinasi III
1.        Menimbang tanah kering angin sebanyak 2 kg.
2.        Mencampur dengan sekam padi hingga merata sebanyak 100 gram.
3.        Membasahi hasil campuran dengan air sedikit demi sedikit hingga kapasitas lapang sebanyak 2 kg.
4.        Memasukkan dalam pot.
5.        Menimbang dan mencatat beratnya.
6.        Menutup pot untuk menghindari air hujan atau gangguan lain dan membiarkan selama 7 hari.
7.        Mengukur pH tanah.
8.        Menambah dengan air hingga bobotnya kembali ke berat semula (kapasitas lapang) apabila terjadi perubahan berat.
9.        Mengusahakan agar tidak terjadi penutupan pori-pori bagian atas tanah dalam panambahan air.
10.    Mengulangi pekerjaan tersebut sebanyak 3 kali.
11.    Merawat tanaman :
a.         Menjaga kebersihan dengan cara melakukan penyiangan rumput dan gulma sekitar area tanaman setiap hari.
b.         Melakukan perlindungan tanaman terhadap gangguan OPT.
c.         Menjaga tanaman agar tidak layu permanen, dengan cara menambah kekurangan air ke berat semula.
12.    Memanen tanaman setelah berumur 35 hari
a.         Membongkar tanaman secara hati-hati.
b.         Membersihkan tanah yang melekat pada tanaman dengan mencelupkan ke dalam air.
c.         Menimbang tanaman yang sudah bersih tersebut.
d.         Mengukur pH tanah masing-masing pot.

3.3.4        Media Tanam Kombinasi IV
1.        Menimbang tanah kering angin sebanyak 2 kg.
2.        Mencampur dengan sekam padi hingga merata sebanyak 100 gram.
3.        Menambah urea hingga merata sebanyak 50 gram.
4.        Membasahi hasil campuran dengan air sedikit demi sedikit hingga kapasitas lapang sebanyak 2 kg.
5.        Memasukkan dalam pot.
6.        Menimbang dan mencatat beratnya.
7.        Menutup pot untuk menghindari air hujan atau gangguan lain dan membiarkan selama 7 hari.
8.        Mengukur pH tanah.
9.        Menambah dengan air hingga bobotnya kembali ke berat semula (kapasitas lapang) apabila terjadi perubahan berat.
10.    Mengusahakan agar tidak terjadi penutupan pori-pori bagian atas tanah dalam panambahan air.
11.    Mengulangi pekerjaan tersebut sebanyak 3 kali.
12.    Merawat tanaman :
a.         Menjaga kebersihan dengan cara melakukan penyiangan rumput dan gulma sekitar area tanaman setiap hari.
b.         Melakukan perlindungan tanaman terhadap gangguan OPT.
c.         Menjaga tanaman agar tidak layu permanen, dengan cara menambah kekurangan air ke berat semula.
13.    Memanen tanaman setelah berumur 35 hari
a.         Membongkar tanaman secara hati-hati.
b.         Membersihkan tanah yang melekat pada tanaman dengan mencelupkan ke dalam air.
c.         Menimbang tanaman yang sudah bersih tersebut.
d.         Mengukur pH tanah masing-masing pot.

3.3.5        Media Tanam Kombinasi V
1.        Menimbang tanah kering angin sebanyak 2 kg.
2.        Mencampur dengan bahan organik  hingga merata sebanyak 100 gram.
3.        Membasahi hasil campuran dengan air sedikit demi sedikit hingga kapasitas lapang sebanyak 2 kg.
4.        Memasukkan dalam pot.
5.        Menimbang dan mencatat beratnya.
6.        Menutup pot untuk menghindari air hujan atau gangguan lain dan membiarkan selama 7 hari.
7.        Mengukur pH tanah.
8.        Menambah dengan air hingga bobotnya kembali ke berat semula (kapasitas lapang) apabila terjadi perubahan berat.
9.        Mengusahakan agar tidak terjadi penutupan pori-pori bagian atas tanah dalam panambahan air.
10.    Mengulangi pekerjaan tersebut sebanyak 3 kali.
11.    Merawat tanaman :
a.         Menjaga kebersihan dengan cara melakukan penyiangan rumput dan gulma sekitar area tanaman setiap hari.
b.         Melakukan perlindungan tanaman terhadap gangguan OPT.
c.         Menjaga tanaman agar tidak layu permanen, dengan cara menambah kekurangan air ke berat semula.
12.    Memanen tanaman setelah berumur 35 hari
a.         Membongkar tanaman secara hati-hati.
b.         Membersihkan tanah yang melekat pada tanaman dengan mencelupkan ke dalam air.
c.         Menimbang tanaman yang sudah bersih tersebut.
d.         Mengukur pH tanah masing-masing pot.

3.3.6        Media Tanam Kombinasi VI
1.        Menimbang tanah kering angin sebanyak 2 kg.
2.        Mencampur dengan bahan organik  hingga merata sebanyak 100 gram.
3.        Menambahkan urea hingga merata sebanyak 50 gram.
4.        Membasahi hasil campuran dengan air sedikit demi sedikit hingga kapasitas lapang sebanyak 2 kg.
5.        Memasukkan dalam pot.
6.        Menimbang dan mencatat beratnya.
7.        Menutup pot untuk menghindari air hujan atau gangguan lain dan membiarkan selama 7 hari.
8.        Mengukur pH tanah.
9.        Menambah dengan air hingga bobotnya kembali ke berat semula (kapasitas lapang) apabila terjadi perubahan berat.
10.    Mengusahakan agar tidak terjadi penutupan pori-pori bagian atas tanah dalam panambahan air.
11.    Mengulangi pekerjaan tersebut sebanyak 3 kali.
12.    Merawat tanaman :
a.         Menjaga kebersihan dengan cara melakukan penyiangan rumput dan gulma sekitar area tanaman setiap hari.
b.         Melakukan perlindungan tanaman terhadap gangguan OPT.
c.         Menjaga tanaman agar tidak layu permanen, dengan cara menambah kekurangan air ke berat semula.
13.    Memanen tanaman setelah berumur 35 hari
a.         Membongkar tanaman secara hati-hati.
b.         Membersihkan tanah yang melekat pada tanaman dengan mencelupkan ke dalam air.
c.         Menimbang tanaman yang sudah bersih tersebut.
d.         Mengukur pH tanah masing-masing pot.



BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
-------------------------------------
4.2 Pembahasan
Tanah merupakan salah satu media tanam yang baik dalam mendukung pertumbuhan tanaman. Dalam mendukung media tanam tanah harus memiliki sifat fisik, kimia dan biologi tanah sehingga dari kombinasi ke tiga komponen tersebut tanah dapat mengasup unsur-unsur dan mineral yang dibutuhkan oleh tanaman. Pengambilan tanah pada pratikum ini dilakukan dengan cara sederhan yaitu menggunakan cangkul dan memperhatikan kedalaman yang akan digunakan untuk media tanam. Tanah yang baik digunakan untuk media tanam digunakan pada kedalaman 20-30 cm dari permukaan tanah karena pada ketinggian tersebut terletak tanah yang banyak mengandung humus yang disebut top soil sehingga tanah tersebut dapat menyediakan unsur hara yang baik.
Rekayasa media tanam dilakukan bertujuan untuk mendapatkan media yang cocok atau ideal sehingga pada media tersebut dapat menyediakan unsur hara dan mineral yang dibutuhkan oleh tanaman. Pengkomposisian media merupakan salah satu rekayasa media tanam yang digunakan dengan cara memperbandingkan komposisi antara tanah dan pelakuan yang akan digunakan. Komposisi media pada BNO dan BNP memiliki komposisi yaitu 2 kg tanah dengan 100 g bahan organik, sedangkan pada media yang digunakan pada SNO dan SNP memiliki komposisi yaitu 2 kg tanah dan 100 g arang sekam. Dari ke empat media yang digunakan antara BNO dan BNP ada perbedaan dari keduanya yaitu penambahan pupuk urea yang digunakan pada BNP dengan takaran 5 g, sedangkan pemberian pupuk dalam media SNO dan SNP dilakukan pada SNP dengan takaran 5 g. Cara membuat media dengan kapasitas lapang dilakukan dengan cara mencampur media yang telah ditentukan kemudian menimbang media yang sudah dicampur kemudian memberikan air dengan takaran tertentu sehingga diketahui air yang mampu ditahan oleh tanah.
Dari pratikum yang telah dilakukan menunjukkan data bahwa rata-rata pada perlakuan dengan media SNO dan SNP mengalami kematian yang diakibatkan oleh media yang bahwa media dengan arang sekam memiliki tingkat pengikatan air dengan cara penyiraman lebih besar dari pada perlakuan yang lainnya, sehingga akar tanaman mengalami kebusukan karena kebanyakan air yang tertahan oleh media yang digunakan. Pada media tanah dari setiap kelompok yang telah dilakukan pada media KNO dan KNP mengalami dosis air atau pemberian air pada media ini meningkat karena tanah yang digunakan dapat meloloskan air tinggi sehingga air yang disediakan pada media tanam tersebut tidak efisien penggunaannya. Media BNO dan BNP rata-rata media ini dapat menumbuhkan tanaman walaupun rata-rata tanaman yang ditumbuhkan kecil-kecil. Hal ini dikarenakan oleh media yang digunakan banyak mengandung bahan organik dan unsur hara yang dibutuhkan tanaman sehingga kebutuhan nutrisi tanaman yang ada pada media tersebut ditambah maupun tidak ditambah tidak akan mempengaruhi tanaman yang ditanam. Kebutuhan air pada pratikum ini yang paling banyak adalah media KNO dan KNP karena tanah yang digunakan adalah tanah yang besar dalam meloloskan air sehingga air banyak tidak digunakan oleh tanaman.
Dari pratikum yang telah dilakukan pada masing-masing kelompok rata-rata kapasitas lapang yang digunakan pada masing-masing kelompok berkisaran antara 2,3-2,4 kg pada kapasitas lapang. Pada kelompok 1,2,4,5 dan 6 dosis air yang paliing banyak adalah perlakuan KNP. Hal tersebut terjadi karena ttanah yang digunakan adalah tanah yang dapat meloloskan air cukup tinggi sehingga tanaman tidak dapat memanfaatkan air dengan efisien. Tetapi pada kelompok 3 dosis air yang paling banyak pada media SNO. Hal ini terjadi karena pada arang sekam mudah untuk meningkatkan aerasi yang tinggi sehingga media tersebut dengan mudah untuk menguapkan air. Untuk tinggi tanaman yang diperoleh dari data yang telah dilakukan dalam pratikum ini pada media KNP dan BNO pada masing-masing kelompok. Hal ini terjadi karena pada media KNP tanah yang digunakan di campurkan dengan pupuk urea sehingga tanaman dibantu dengan unsur hara N sehingga berpengaruh pada tinggi tanaman, sedangkan pada BNO tinggi tanaman mengalami perubahan yang dapat dilihat karena media BNO merupakan media yang kaya akan unsur hara organik sehingga tanaman dapat tumbuh dengan baik pada media ini karena unsur hara dapat disediakan oleh media tanam walaupun pada media BNO ada tanaman yang mati. Perlakuan yang terbaik dari pratikum ini adalah media yang digunakan pada BNO krena pada media bahan organik banyak mengandung unsur hara organik yang dibutuhkan oleh tanaman sehingga tanaman dapat mengambil bahan organik secara alami walaupun ditambahakan oleh urea tanaman masih dapatkan unsur hara yang ada pada bahan organik tersebut.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam rekayasa media tanam adalah dosis pemupukan yang akan diberikan dalam setiap tanaman dan pemupukan yang akan diletakkan dalam setiap media tanam dan juga dosis air yang diberikan pada setiap media tanam. Untuk pemberian pupuk yang dilakukan harus sesuai dengan takaran yang telah ditentukan pada setiap label pupuk sehingga tanaman tidak mengalami kelebihan unsur hara yang dapat menyebabkan tanaman keracunan unsur hara. Peletakan pupuk pada setiap tanaman harus dilakukan jauh dari daerah perakaran karena apabila terlalu dekat perakaran menyebabkan tanaman terhambat pertumbuhannya yang disebabkan oleh pupuk yang belum menjadi ion sehingga tanaman tidak dapat menyerap pupuk tersebut.



BAB 5. PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Pada pratikum ini dapat disimpulkan perlakuan yang paling baik dalam rekayasa media tanam yaitu pada media BNO dan BNP karena pada media ini digunakan media yang penuh bahan organik dan juga dilakukan pemupukan sehingga tanaman dapat unsur hara yang cukup. Pemberian pupuk harus sesuai dengan dosis yang tertera pada label pupuk sehingga tanaman tidak akan terjadi keracunan dan juga pemupukan harus dilakukan jauh dari akar tanaman agar pupuk dapat diurai menjadi ion sehingga dapat dimanfaatkan oleh akar tanaman.

5.2 Saran
Untuk melakukan pratikum ini perlu diperhatikan pemupukan dan dosis pupuk yang diberikan. Pemberian dosis air yang diberikan pada tanaman harus diperhatikan agar tanaman tidak terjadi kebusukan pada akar tanaman karena kelebihan air yang diberikan pada setiap media tanam.



DAFTAR PUSTAKA
Djajadi, dkk. 2010. Pengaruh Media Tanam Dan Frekuensi Pemberian Air Terhadap Sifat Fisik, Kimia Dan Biologi Tanah Serta Pertumbuhan Jarak Pagar. Jurnal Littri. Vol 16(2):64-69.

Fatimah dan Handarto. 2008. Pengaruh Komposisi Media Tanam Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman Sambiloto (Andrographis paniculata, Nees). Embryo. Vol 5(2):133-148.

Hanum, Chairani. 2008. Teknik Budidaya Tanaman. Jakarta : Depdiknas.

Haryanto, Eko, Dkk. 2008. Sawi Dan Selada. Jakarta : Penebar Swadaya.

Hendrasarie, Novirina. 2007. Teknik Pembibitan Tanaman dan Produksi Benih Jilid 1. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

Hendrasarie, Novirina. 2007. Kajian Efektifitas Tanaman Dalam Menjerap Kandungan Pb di Udara. Jurnal Rekayasa Perencanaan. Vol. 3(2). [online] diakses pada tanggal 25 April 2012.

Nurwandani, Paristiyanti. 2008. Teknik Pembibitan Tanaman Dan Produksi Benih. Jakarta : Depdiknas.

Nusifera, Sosiawan. 2001. Respons Tanaman Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Pupuk Daun Nutra-Phos N Dengan Konsentrasi Bervariasi. [online] diakses pada tanggal 25 April 2012.

Susila, 2006. Panduan Budidaya Tanaman Sayuran. Bogor: IPB.