Kamis, 09 Mei 2013

Uji Kedalaman Benih

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang

Dalam kehidupan keseharian, tanaman melakukan beberapa aktivitas yang berguna dalam rangka mempertahankan hidup , seperti bernapas, berfotosintesis, respirasi, dan berkembang biak. Awal perkembangbiakan umumnya ditandai dengan perkecambahan. Dan tentunya di dalamnya terdapat struktur yang cukup rumit.
Perkembangbiakan pada setiap tanaman tidaklah sama. Ada beberapa spesies tanaman yang berkembangbiak dengan cara generatif dan ada juga yang berkembangbiak dengan cara vegetatif. Perkembangbiakan baik secara vegetatif sebagian besar berasal dari salah satu bagian tanaman, misalnyaberasal dari batang, akar, daun, dan lain-lain, atau bisa juga disebut bibit. Sedangkan perkembangbiakan secara generatif umumnya berasal dari biji. Pada kenyataannya kita dapat membedakan antara bibit dan benih yang keduanya digunakan dalam proses pembiakan tanaman. Pertama, metode generatif menggunakan benih. Kedua, metode vegetatif menggunakan bibit. Ketiga, metode vegetatif-generatif menggunakan bibit juga. Jadi, dapat dikatakan bahwa dalam aplikasinya antara tanaman yang satu dengan tanaman yang lain akan mengalami perbedaan dalam berkembangbiakan yang disesuaikan dengan varietas dan jenisnya.
Tentunya dalam mengembangbiakkan tanaman, metode penancapan atau kedalaman tanah juga harus disesuaikan supaya tanaman dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Oleh karena itu diperlukan uji coba kedalaman tanam menggunakan substrat tanah atau pasir dengan menanam benih pada berbagai kedalam tertentu. Bibit normal dari benih yang vigor memiliki kekuatan tumbuh pada tanah padat dengan asumsi benih yang mampu tumbuh normal pada kedalaman tanam paling dalam, sedangkan kecambah dari benih yang kurang vigor tidak memiliki kemampuan tersebut.

1.2  Tujuan
1.      Untuk mengetahui struktur kecambah dua macam jenis benih dan mengetahui keragaman perkecambahannya.
2.      Untuk melatih mahasiswa agar dapat melakukan uji kekuatan tumbuh (vigor) bibit dan memahami relevansi uji kedalaman.


BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

            Menurut Copeland (1976) perkecambahan adalah aktivitas pertumbuhan yang sangat singkat suatu embrio dalam perkembangan biji menjadi tanaman muda. Peristiwa perkecambahan ini akan terjadi beberapa proses yang berpengaruh terhadap keberhasilan suatu perkecambahan yaitu penyerapan air, aktivitas enzim, pertumbuhan embrio, pecahnya kulit biji dan kemudian membentuk tanaman kecil. Proses imbibisi mengakibatkan sel menjadi bengkak dan kulit biji bersifat permiable bagi oksigen dan karbondioksida (Abidin, Zainal, 1991). Proses imbibisi yang merupakan proses penyerapan air oleh biji merupakan awal proses dimulainya perkecambahan (Taiz dan Zeiger, 2002) dan efektivitasnya di lapang pertanaman ditentukan oleh posisi mikropil maupun permeabilitas kulit biji (Hartmann et al., 1997) dalam jurnal Santoso dan Purwoko (2008).
            Dormansi benih dapat disebabkan antara lain adanya impermeabilitas kulit benih terhadap air dan gas (oksigen),embrio yang belum tumbuh secara sempurna,
hambatan mekanis kulit benih terhadap pertumbuhan embrio, belum terbentuknya zat pengatur tumbuh atau karena ketidakseimbangan antara zat penghambat dengan zat pengatur tumbuh di dalam embrio (Villlers, 1972). Pemunculan kecambah di atas permukaan tanah merupakan faktor yang mencerminkan vigor suatu bibit. Untuk mengetahui perlakuan yang dapat meningkatkan vigor dilakukan pengamatan terhadap kecambah yang mampu muncul di atas permukaan tanah dari sejumlah benih yang dikecambahkan (Saleh, M. Salim, 2004).
            Kerugian dalam pembiakan dengan biji adalah segresi secara genetik pada tanaman-tanaman yang bersifat heterosigus dan jangka waktu yang sangat lama sejak biji sampai menjdi tanaman dewasa (Harjadi, Sri S. 1983). Pembiakan dari biji perlu memperhatikan hal-hal berikut in yaitu:
1.    Cara memperoleh biji
a.       Didapat dari kebun sendiri
Perkebunana biasanya mempunyai tempat khusu untuk memungut biji sebagai bibit. Biasanya dipilih pohon induk yang memiliki produksi tinggi, tahan terhadap serangan hama.
b.      Didapat dari Badan Penelitian Perkebunan Besar
Apabila di kebun kita tidak memiliki biji-biji yang dianggap baik maka dapat dipesan di BPPB. Biasanya biji-biji yang dihasilkan adalah biji-biji yang sudah teruji keunggulannya.
2.    Cara memilih dan memelihara biji
Buah yang dipungut adalah buah masak kemudian dipilih yang baik, tidak cacat dan yang besarnya normal. Jika biji tidak memenuhi syarat maka sebaiknya biji disingkirkan.
3.    Cara menyimpan biji
Biji-biji yang dipilih dalam keadaan kering dapat terus disemaikan untuk menunggu musim penyemaian yang tepat, biji dapat disimpan sementara waktu dan menghindari terjadinya serangan hama maka biji-biji tersebut bisa dimasukkan kedalam peti.
4.    Lamanya penyimpanan biji
Biji-biji yang baru akan tumbuh 90-100%, sedangkan yang disimpan 6 bulan daya tumbuhnya ± 60-70%. Sebaiknya penyimpanan janagan sampai lebih dari 3 bulan dan paling baik penyimpanan dilakukan sekitar 2 bulan.
5.    Musim menaburkan biji dan banyaknya biji yang diperlukan
6.    Pesemaian
(AAK, 2012).
            Rodrigues-Perez (2005) menyatakan bahwa perkecambahan dan ketahanan bibit merupakan kemampuan suatu tanaman untuk terus dapat hidup dan merupakan tahapan penting yang kritis dalam siklus hidup tanaman pada ekosistim kering. Posisi benih saat penanaman mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan akar sejak mulai terbentuknya akar pada proses perkecambahan hinggi bibit berumur dua bulan. Posisi benih terlentang menyebabkan adanya pembengkokan pada pangkal akar-batang. Pada benih yang terlentang memposisikan mikropil ke arah atas, sehingga saat radikula tumbuh dan berkembang akan mengarah ke atas terlebih dahulu sebelum mengikutigaya gravitasi selayaknya arah tumbuh akar. Pembengkokan ini mengganggu pertumbuhan dan perkembangan baik akar lateral maupun akar tunjang yang selanjutnya mempengaruhi nilai rasio bobot kering tajuk-akar. Pertumbuhan dan perkembangan akar yang baik terjadi pada posisi benih telungkup dan benih
ditanam tegak yang memposisikan lubang mikropil dibawah (Santoso, Bambang B dan Purwoko, Bambang S. 2008).
            Bewley dan black menyatakan bahwa benih mempunyai struktur kulit yang keras dapat mengganggu penyerapan air dan pertukaran gas, selain adanya zat penghambat perkecambahan di dalam kulit benih itu sendiri dan menghalangi lepasnya penghambat yang terdapat dalam endosperm. Salah satu cara yang efektif yang dapat dilakukan untuk mempersingkat masa dormansi benih adalah dengan memanaskan benih dengan  oven listrik  pada suhu tertentu. Pada umumnya setiap benih tanaman memiliki kekerasan dan ketebalan kulit yang berbeda. Semakin tebal kulit maka memerlukan suhu lebih tinggi untuk memberi peluang Masuknya air ke dalam benih (Ardian, 2008).


BAB 3 METODOLOGI

3.1    Waktu dan Tempat
Pratikum pembiakan tanaman 1 ini dilaksanakan pada tanggal 13 Maret 2012 pukul 14.00 WIB di Laboratorium Produksi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Jember.

3.2    Alat dan Bahan
3.2.1 Alat
1.    Bak pengecambahan
2.    Penggaris
3.    Hand sprayer

3.2.2 Bahan
1.    Benih monokotil (padi atau jagung)
2.    Benih dikotil (kedelai atau kacang tanah)
3.    Subtrat tanah dan pasir

3.3    Cara Kerja
1.        Membuat media tanam berupa campuran tanah top soil dan pasir perbandingan 1:1, kemudian membersihkan dan mengayak halus.
2.        Memasukkan campuran media tanam ke dalam bak pengecambah hingga ½ - 2/3 tinggi bak (untuk kedalaman 2,5 – 7,5), menyiram sampai kelembapan dirasa cukup.
3.        Menanam 20 – 25 butir benih monokotil (jagung atau padi) dan dikotil (kedelai atau kacang tanah) dengan kedalaman 2,5 ; 5,0 dan 7,5 dalam tiga kali ulangan.
4.        Menutup benih yang telah ditanam dengan campuran tanah lembab yang sama setinggi kedalaman tanaman.
5.        Setiap bak pengecambahan menanam satu macam jenis benih dengan kelembapan tertentu (sesuai perlakuan) sebanyak tiga lajur (tiga kali). Jangan lupa untuk selalu menjaga kelembapan subtrat setiap saat.


BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

Jenis
Benih
Kedalaman
Tanam
Ulanagan
Perkecambahan % hari Ke-6
Tinggi tanaman
Normal
Abnormal
Mati
Jagung atau padi
2,5 cm
1
10
-
-
6,9 cm
2
10
-
-
5,77 cm
3
10
-
-
6,33 cm
5 cm
1
9
-
1
6,35 cm
2
10
-
-
6,23 cm
3
10
-
-
6,68 cm
7,5 cm
1
10
-
-
20,9 cm
2
7
-
3
22,4 cm
3
8
2
-
15,7 cm
Kedelai atau kacang tanah
2,5 cm
1
2
2
6
8,12 cm
2
1
5
4
4,75 cm
3
1
3
6
9,65 cm
5 cm
1
3
3
4
7 cm
2
3
3
4
7,25 cm
3
5
3
2
8,36 cm
7,5 cm
1
5
3
2
8,94 cm
2
6
2
2
9,25 cm
3
3
3
4
8,33 cm




4.2 Pembahasan
Tabel 1. Pengaruh dari uji kedalaman pada pertumbuhan perkecambahan biji jagung dan biji kacang tanah.
            Data diatas merupakan hasil dari percobaan yang telah di lakukan pada pertemuan uji kedalaman tanah. Pada percobaan jagung yang dilakukan dengan perlakuan 2,5 cm, 5 cm, dan 7,5 cm rata-rata kecambah yang tumbuh normal pada percobaan 2,5 cm dan 5 cm, sedangkan pada perlakuan dengan perlakuan 7,5 cm ada tanaman jagung yang pertumbuhannya abnormal dan ada juga yang mati yang disebabkan oleh faktor dari dalam biji tersebut seperti daya kecambah, kebutuhan cahaya dan lain-lain. Tinggi tanaman pada setiap percobaan juga mengalami perbedaan yang berbeda jauh dari setiap perlakuan. Tinggi tanaman pada kedalaman 2,5 cm dan 5 cm perbedaannya tidak berbeda jauh rata-rata memiliki tinggi tanaman 5,43 cm, sedangkan pada kedalaman 7,5 cm rata-rata 19,6 cm. Perlakuan dengan kedalaman 7,5 cm memiliki tinggi yang berbeda karena keperluan cahaya matahari sangat banyak sehingga tanaman berusaha untuk mencapai permukaan tanah agar bisa berfotosintesis.
            Data yang diperoleh dari percobaan yang menggunakan kacang tanah didapat bahwa pada perlakuan dengan kedalaman 2,5 cm, 5 cm dan 7,5 cm memiliki perbedaan yang sangat signifikan dari perlakuan 1, 2 dan 3. Perlakuan dengan kedalaman 2,5 cm memiliki kecambah yang banyak mengalami kematian dan juga memiliki kecambah yang abnormal, sedangkan pada kedalaman 5 cm rata-rata sama dengan perlakuan 2,5 cm tetapi jumlah kecambah yang abnormal dan normal lebih banyak dari pada kecambah pada perlakuan dengan kedalaman 2,5 cm. Kedalaman 7,5 cm memiliki kecambah yang normal lebih banyak dari pada kedua perlakuan sebelumnya. Dari ketiga perlakuan memiliki tinggi tanaman yang hampir sama.

Tabel 2. Kekuatan tumbuh bibit jagung dan kacang tanah

                                           Kecambah bibit normal (hari ke-6)
Kekuatan tumbuh =                                                                                    x 100%      
                                    Jumlah total benih yang dikecambahkan

Pada tanaman jagung:
1.      Kedalaman 2,5 cm


                                    
                                      =100% 

2.      Kedalaman 5 cm



                                    = 96,67%

3.      Kedalaman 7,5 cm


                                   
                                    = 83,33%

Pada tanaman kacang tanah:
1.      Kedalaman 2,5 cm



                                    = 16,67%

2.      Kedalaman 5 cm


                                   
                                      = 36,67%








3.      Kedalaman 7,5 cm
                             

                           
                                      = 46,67%


Kekuatan tumbuh benih pada data yang diperoleh diatas mempunyai perbedaan. Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh biji yang ditanam dan kedalaman biji yang ditanam. Pada biji jagung yang berkecambah normal pada kedalaman 2,5 cm,5 cm dan 7,5 cm masing-masing memiliki kekuatan tumbuh 100%, 96,67% dan 83,33% sehingga pada biji jagung dikategorikan mempunyai vigor kekuatan tumbuh yang tinggi karena melebihi 75%.
Biji kacang tanahyang berkecambah normal pada kedalaman 2,5 cm, 5 cm, dan 7,5 cm masing-masing memiliki kekuatan tumbuh 16,67%, 36,67%, dan 46,67% sehingga kacang tanah dikategorikan memiliki vigor kekuatan tumbuh yang relatif rendah karena kurang dari 75%.

              Faktor-faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi pertumbuhan benih antara lain:

1. Temperatur/suhu
Temperatur harus dikendalikan dengan teliti beberapa macam benih berkecambah diatas suatu batas yang lebar dari temperatur yang wajar, tetapi yang lain mulai tumbuh dengan segera hanya dibatas yang sempit. Benih berkecambah biasanya pada temperatur dimana benih itu telah menyesuaikan dengan iklim di tempat benih tersebut dihasilkan. Tinggi rendah suhu menjadi salah satu faktor yang menentukan tumbuh kembang, reproduksi dan juga kelangsungan hidup dari tanaman. Suhu yang baik bagi tumbuhan adalah antara 22 derajat celcius sampai dengan 37 derajad selsius. Temperatur yang lebih atau kurang dari batas normal tersebut dapat mengakibatkan pertumbuhan yang lambat atau berhenti.
2. Cahaya
Sinar matahari sangat dibutuhkan oleh tanaman untuk dapat melakukan fotosintesis (khususnya tumbuhan hijau). Jika suatu tanaman kekurangan cahaya matahari, maka tanaman itu bisa tampak pucat dan warna tanaman itu kekuning-kuningan (etiolasi). Pada kecambah, justru sinar mentari dapat menghambat proses pertumbuhan.
Kebutuhan benih terhadap cahaya untuk berkecambah berbeda-beda tergantung pada jenis tanaman. Benih yang dikecambahkan pada keadaan kurang cahaya atau gelap dapat menghasilkan kecambah yang mengalami etiolasi, yaitu terjadinya pemanjangan yang tidak normal pada hipokotil atau epikotil, kecambah pucat dan lemah.
3. Kelembaban / Kelembapan Udara
Kadar air dalam udara dapat mempengaruhi pertumbuhan serta perkembangan tumbuhan. Tempat yang lembab menguntungkan bagi tumbuhan di mana tumbuhan dapat mendapatkan air lebih mudah serta berkurangnya penguapan yang akan berdampak pada pembentukan sel yang lebih cepat.
4. Tekanan partikel tanah
Hal ini dapat disebabkan karena pemadatan tanah oleh air hujan atau traktor. Pada tanah yang padat, benih sukar untuk berkecambah karena benih tidak dapat menembus sampai permukaan tanah. Pada bibit normal dari benih yang vigor yang memiliki kemampuan tumbuh pada tanah padat dengan asumsi benih yang mampu tumbuh normal pada kedalaman tanam paling dalam, sedangkan kecambah dari benih yang kurang vigor tidak memiiki kemampuan tersebut.
            Data yang di dapat pada pratikum ini memiliki perbedaan pada setiap perlakuan yang diterapkan pada biji jagung dan biji kacang tanah. Perlakuan tersebut sangat berpengaruh terhadap kekuatan tumbuh tanaman karena setiap tanaman memiliki faktor yang dapat berpengaruh terhadap kecepatan pertumbuhan biji. Faktor tersebut faktor lingkungan dan faktor internal yang ada dalam biji tersebut. Kedua faktor tersebut memiliki peran yang penting dalam mendukung pertumbuhan biji.
            Perlakuan yang diterapkan pada pratikum ini memiliki perbedaan pertumbuhan pada setiap biji. Biji jagung yang paling ideal ditanam di lapang pada kedalaman 2,5 cm dan 5 cm karena biji jagung memerlukan banyak cahaya untuk tumbuh dan juga memerlukan oksigen yang cukup. Sedangkan, pada biji kacang tanah yang paling ideal untuk diterapkan dilapang antara 7,5 cm atau lebih karena biji kacang tanah memerlukan banyak nutrisi atau mineral untuk tumbuh.
BAB 5 PENUTUP

5.1    Kesimpulan

1.    Kekuatan tumbuh biji jagung lebih baik dari pada kekuatan tumbuh kecambah yang dipengaruhi oleh berbagai faktor yang berasal dari biji tersebut maupun faktor lingkungan.
2.    Faktor lingkungan dapat mempengaruhi pertumbuhan biji. Faktor tersebut antara lain: suhu atau temperatur, cahaya, kelembapan udara dan tekanan partikel.
3.    Perlakuan yang diterapkan dapat mempengaruhi vigor kekuatan tumbuh biji.
4.    Pada kedalaman 2,5 cm dan 5 cm adalah kondisi ideal bagi pertumbuhan biji jagung, sedangkan kedalaman 7,5 cm kondisi yang ideal bagi biji kacang tanah.


5.2    Saran

Praktikum uji kedalaman seharusnya dilakukan dengan teliti karena hal ini menyangkut hasil yang akan didapat dan hasil tersebut harus diterapkan di lahan sehingga mahasiswa dapat mengetahui pengaruh pertumbuhan biji tersebut yang disebabkan oleh kondisi lapang.
DAFTAR PUSTAKA

AAK. 2012. Budidaya Tanaman Kopi. Yogyakarta. Kanisius.

Abidin, Zainal. 1991. Dasar Pengetahuan Ilmu Pertanian. Bandung. Offset Angkasa.

Ardian. 2008. Pengaruh Perlakuan Suhu dan Waktu Pemanasan Benih Terhadap Perkecambahan Kopi Arabika (Coffea arabica). Jurnal Akta Agrosia. 11(1):25-33.

Harjadi, Sri S. 1983. Pengantar Agronomi. Jakarta. Gramedia.

Saleh, M. Salim. 2004. Pematahan Dormansi Benih Aren Secara Fisik Pada Berbagai Lama Ekstraksi Buah. Agrsains. 6(2): 79-83.

Santoso dan Purwoko. 2008. Pertumbuhan Bibit Tanaman Jarak Pagar (Jatropha curcas L.) pada Berbagai Kedalaman dan Posisi Tanam Benih. Bul Agron. 36(1): 70-77.