Kamis, 23 Mei 2013

Laporan Hama Pasca Panen Tribollium casteneum



BAB 1 PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang
Indonesia memiliki potensi berbagai macam budidaya tanaman karena Indonesia memiliki iklim yang cukup baik bagi pertumbuhan tanaman. salah satu komoditas yang banyak dibudidayakan di Indonesia adalah kacang tanah. Di Indonesiakacang tanah dikonsumsi sebagai makanan sehari-hari dalam bentuk makanan ringan, sebagian sebagian bahan tambahan dalam industri pangan, dan sebagian kecil lainnya diolah untuk diambil minyaknya. Penanganan pascapanen kacang tanah meliputi panen, yang dapat dilakukan pada tingkat kadar masih tinggi (lebih dari 28-34%) ataupun ketika kadar air kacang tanah sudah cukup rendah (20-24%), perontokan, pengeringan, dan pengupasan kulit. Mirip dengan yang terjadi pada kedelai, penanganan pascapanen kacang tanah umumnya dilakukan secara tradisional kecuali kegiatan perontokan dan pengupasan kulit. Kacang tanah dipanen dengan cara mencabutnya dari tanah menggunakan tangan, lalu menjemurnya di bawah sinar matahari. Polong kacang tanah kemudian dilepaskan dari batangnya, juga menggunakan tangan, kemudian dijemur lagi untuk menurunkan kadar airnya.
Produksi komoditi kacang tanah per hektarnya belum mencapai hasil yang maksimum. Hal ini tidak terlepas dapat dipengaruh oleh faktor tanah yang makin keras (rusak) dan miskin unsur hara terutama unsur hara mikro serta hormon pertumbuhan. Disamping itu juga karena faktor hama dan penyakit tanaman, faktor iklim, serta faktor pemeliharaan lainnya. Serta penanganan pada saat tanaman kacang tanah setelah panen karena terdapat hama dan penyakit yang menyerang tanaman kacang tanah ketika pasca panen.
Produk pasca penen merupakan bagian tanaman yang dipanen dengan berbagai tujuan terutama untuk memberikan nilai tambah dan keuntungan bagi petani maupun konsumen. Produk dalam simpanan ini tidak terlepas dari masalah organisme pengganggu tumbuhan terutama dari golongan serangga hama. Hama yang menyerang komoditas simpanan (hama gudang) mempunyai sifat khusus yang berlainan dengan hama yang menyerang tanaman ketika di lapang. Umumnya hama gudang yang sering dijumpai adalah dari golongan Coleoptera, misalnya Tribolium castaneum, Sitophilus oryzae, Callocobruchus spp, dll.
Pada komoditas kacang tanah salah satu hama yang menyerang adalah golongan coleoptera yaitu Tribolium casteneum. Hama ini biasanya dapat menyerang komoditas lain seperti padi, kopi dan lain-lain selain kacang tanah. Hama gudang ini tersebar luas diseluruh dunia dan hama ini tergolong penting di Indonesia karena hampir ditemukan diseluruh gudang penyimpanan komoditas yang telah dipanen. Hama ini biasanya dikenal sebagai kumbang tepung karena ketika menggerek komoditas yang terserang menyisakan hasil gerekan yang berupa tepung pada daerah komoditas tanaman terserang.

1.2    Tujuan
Untuk mengetahui gejala komoditas yang terserang Tribolium casteneum dan mengetahui morfologi dari hama tersebut.


BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Tribolium casteneum merupakan hama gudang yang menyerang kacang tanah tetapi hama ini juga dapat menyerang pada komoditas beras, tetapi juga terdapat pada gaplek, dedak, beaktul yang ada di toko maupun di rumah. Pada umumnya hama ini dapat menyerang ketika terjadi kerusakan mekanis atau kerusakan akibat Sitophilus orizae atau karena hama-hama gudang yang lain yang menyerang (Sudarmo, RM, 1997). Tribolium casteneum pada kacang tanah menyerang karena kacang tanah memiliki kandungan lemak yang tinggi yang dibutuhkan oleh hama tersebut.
Hama gudang mempunyai sifat yang khusus yang berlainan dengan hama-hama yang menyerang dilapangan, hal ini sangat berkaitan dengan ruang lingkup hidupnya yang terbatas yang tentunya memberikan pengaruh yang terbatas juga. Produk pasca panen merupakan bagian tanaman yang dipanen dengan berbagai tujuan terutama untuk memberikan nilai tambah dan keuntungan bagi petani maupun konsumen sehingga produk pasca panen ini perlu disimpan untuk memenuhi kebutuhan konsumen atau untuk memenuhi stok produk yang ada. Produk dalam simpanan ini tidak terlepas dari masalah organisme pengganggu tumbuhan terutama dari golongan serangga hama (Kartasapoetra, 1989).
Hama Tribolium casteneum yang juga disebut kumbang merah tepung karena hasil dari gerekan hama ini berupa tepung dan warna dari hama ini adalah merah. Hama ini termasuk hama sekunder pada beberapa komoditas seperti kacang tanah. Salah satu cara pengendalian hama ini adalah penggunaan pestisida nabati. Pestisida nabati merupakan pestisida yang memiliki bahan aktif yang dihailkan dari tanaman dan memiliki fungsi sebagai pengendalian hama dan penyakit yang menyerang tanaman. Pestisida nabati merupakan pestisida yang dapat menjadi alternatif untuk mengurangi penggunaan pestisida sintetis. Pestisida nabati adalah pestisida yang ramah lingkungan serta tanaman-tanaman penghasilnya mudah dibudidayakan salah satunya seperti sereh dapur, sereh wangi dan nimba yang dapat dibuat menjadi bentuk minyak tanaman (Adnyana, dkk, 2012). Penggunaan pestisida nabati ini biasanya mengunakan organ tanaman seperti daun, akar, biji dan buah tanaman yang menghasilkan suatu senyawa tertentu yang dapat menghalau serangga untuk memakan atau bahkan mematikan serangga tersebut.


BAB 3 HASIL DAN PEMBAHASAN

a.         Klasifikasi Tribolium casteneum
Hama gudang merupakan hama yang memiliki pengaruh penting dalam pasca panen komoditas. Penyebab dari kerugian terhadap hama ini pada umumnya terjadi penurunan kualitas komoditas yang terserang karena terdapat lubang-lubang akibat serangan hama ini. Kacang tanah merupakan salah satu komoditas tanaman yang banyak diusahakan di Indonesia karena memiliki nilai ekonomi yang cukup bagus. Penurunan hasil dari komoditas kacang tanah salah satu faktor penyebabnya adalah penanganan pasca panen yang kurang diperhatiakan terutama pengendalian hama gudang. Pada umumnya hama gudang yang menyerang termasuk ordo coleoptera. Hama yang umum menyerang kacang tanah adalah Tribolium casteneum yang menyebabkan gejala berlubang pada kacang tanah yang terserang dan terdapat tepung hasil gerekan pada sekitar kacang tanah. Tribolium casteneum termasuk dalam genus tribolium yang memiliki ciri-ciri khusus. Berikut ini beberapa klasifikasi dari Tribolium casteneum atau bisa disebut Kumbang Tepung ini:
Kingdom:  Animalia
Filum: Arthropoda
Kelas: Insecta
Ordo: Coleoptera
Famili : Tenebrionidae
Genus: Tribollium
Spesies: Tribollium casteneum.
b.        Ciri-ciri khusus (morfologi)
 Kumbang dewasa berbentuk pipih, berwarna cokelat kemerahan sampai coklat gelap, dan memiliki panjang tubuhnya 3-4 mm. Telur berwarna putih keruh dengan panjang ± 1,5 mm dan berbentuk lonjong. Larva berwarna putih kekuningan dengan panjang ± 5-6 mm, pada bagian ujung abdomennya terdapat tonjolan seperti garbu yang berukuran kecil dan berwarna gelap. Larva memiliki tungkai thorakal yang berguna untuk berjalan. Pupa berwarna putih kekuningan dengan panjang ± 3,5 mm dan bertipe bebas. Kumbang ini memiliki siklus hidup 5-6 minggu. Tribollium casteneum memiliki beberapa ciri khas yang membedakan dari Tribolium confusum. Tribollium casteneum memiliki bentuk sungut kapitat atau tiga ruas sungut yang bagian ujungnya mendadak membesar, memiliki bagian mata yang sempit dan tidak tertutup dan terdiri dari 3-4 mata facet.



Imago dari Tribolium casteneum dan lavar
c.         Biologi dari Tribolium casteneum
 Hama ini termasuk hama sekunder yang merusak komoditas yang telah dirusak oleh hama yang lain atau adanya kerusakan mekanis yang ditimbulkan oleh penanganan pasca panen yang kurang tepat. Larva hidup dalam biji tersebut dengan memakan isi biji.  Fase larva merupakan fase yang merusak biji. Imago meletakkan telur secara acak dalam tepung atau diantara partikel makanan. Serangga betina dapat hidup selama 1 tahun dan menghasilkan telur sebanyak 350-400 butir. Setelah menetas larva akan aktif disekitar tepung tersebut. Ketika menjelang pupa maka larva akan naik kepermukaan material. Setelah menjadi imago maka akan kembali kedalam partikel atau material yang diserang. Dalam bentuk imago hama ini jaran sekali terbang dan memiliki umur tiga tahun. Gejala dari serangan hama ini adalah terdapat bubuk yang menempel pada biji yang telah digerek oleh hama ini, biji yang digerek memiliki lubang yang mempunyai warna hitam dan lubangnya tidak beraturan. Biasanya hama ini menyerang setelah Sitophilus oryzae melakukan serangan sehingga terdapat lubang untuk berlindung.
d.        Cara pengendalian
Untuk hama ini dapat dilakukan dengan penjemuran terhadap komoditas simpanan pada waktu tertentu dengan pengeringan yang sempurna. Selain itu juga dapat dilakukan fumigasi terhadap produk pasca panen dengan menggunakan fumigan yang tidak berbahaya bagi kesehatan manusia. Selain itu menjaga tempat kebersihan gudang yang akan digunakan. Untuk komoditas yang disimpan penggunaan pestisida kimia tidak dianjurkan karena dapat berdampak kepeda kesehatan konsumen. Ketika pestisida kimia yang diberikan kepada komoditas yang disimpan maka akan masuk kedalam komoditas tersebut dan menyebabkan residu dalam komoditas tersebut. Salah satu cara adalah penggunaan pestisida nabati untuk mengendalikan hama gudang karena pestisida ini mudah menguap jika kita lakukan proses pengeringang. Banyaknya terjadi gangguan lingkungan akibat pestisida kimia sehingga memunculkan suatu ide yaitu Pengendalian Hama Terpadu (PHT) yang salah satu tujuannya adalah mengendalikan hama dengan menggunakan musuh alami dan penggunaan pestisida nabati. Pestisida nabati merupakan pestisida yang digunakan untuk pengendalian hama dan penyakit bagi tanaman yang terbuat dari bahan alami seperti organ tanaman, atau minyak yang dihasilkan oleh tanaman.


BAB 4 KESIMPULAN

Dari pratikum yang telah dilakukan maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1.    Hama yang menyerang komoditas yang disimpan terutama kacang tanah adalah Tribolium casteneum yang merupakan hama sekunder.
2.    Hama Tribolium casteneum  pada kacang tanah merupakan salah satu dari ordo coleoptera yang memiliki ciri-ciri khusus.
3.    Cara pengendalian hama ini dapat dilakukan dengan cara pengeringan yang sempurna, penggunaan fumigasi, penggunaan pestisida nabati dan lain-lain.


DAFTAR PUSTAKA

Adnyana, dkk. 2012. Efikasi Pestisida Nabati Minyak Atsiri Tanaman Tropis terhadap Mortalitas Ulat Bulu Gempinis. Jurnal Agroekologi Tropika 1(1): 1-11.

Kartasapoetra. 1989. Teknologi Pasca Panen. Jakarta: Bina Aksara.

Sudarmo, RM. 1997. Pengendalian Serangga Hama Sayuran dan Palawija. Jakarta: Kanisius.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar